Ini Dia Project Vault, Strategi Pemerintah AS Lepas dari Ketergantungan Pada China



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan meluncurkan proyek cadangan mineral penting strategis dengan modal awal US$ 12 miliar. Ini bagian upaya AS mengurangi ketergantungannya pada logam tanah jarang dan logam lain dari China, serta melindungi produsen dari gangguan pasokan.

Bloomberg melaporkan, mengutip sumber pemerintah yang tidak bersedia diungkap namanya, proyek ini diberi nama Project Vault. Skemanya, AS akan mengumpulkan modal dari pihak swasta sebesar US$ 1,67 miliar, atau sekitar Rp 28,02 triliun.

Dana tersebut akan digabung dengan pinjaman US$ 10 miliar, sekitar Rp 167,79 triliun, dari Bank Ekspor-Impor AS. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan dan penyimpanan mineral bagi produsen mobil, perusahaan teknologi, dan produsen lainnya.


Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5% Usai AS–Iran Melunak, Sentimen Fundamental Kembali Menekan

Dewan direksi Bank Ekspor-Impor AS dijadwalkan akan memberikan suara pada Senin sore (2/2/2026) waktu AS untuk mengesahkan pinjaman tersebut. Pinjaman tersebut akan bertenor 15 tahun.

Ini akan menjadi rekor pinjaman bank ini. Nilai pinjaman tersebut lebih dari dua kali lipat kesepakatan terbesar berikutnya yang pernah dilakukan oleh bank tersebut.

Beberapa detail tentang struktur Project Vault belum diketahui secara pasti, termasuk investor institusional yang menyediakan dana sebesar US$ 1,67 miliar.

Para pejabat senior pemerintah mengatakan proyek tersebut telah kelebihan permintaan karena investor tertarik oleh kelompok produsen yang memiliki kredibilitas tinggi, komitmen jangka panjang mereka, dan keterlibatan lembaga kredit ekspor AS.

Baca Juga: Rusia Menyambut Positif Perubahan Strategi Keamanan AS yang Lebih Lunak

Berdasarkan kesepakatan tersebut, perusahaan yang berkomitmen awal untuk membeli material dengan harga persediaan tertentu di kemudian hari dan membayar beberapa biaya di muka akan dapat memberikan daftar belanja material pilihan yang mereka butuhkan kepada Project Vault.

Proyek tersebut, pada gilirannya, akan berupaya untuk mendapatkan dan menyimpan material tersebut. Para produsen dikenakan biaya penyimpanan untuk pengeluaran yang terkait dengan bunga pinjaman dan penyimpanan elemen-elemen tersebut.

Biaya penyimpanan spesifik yang akan dibebankan kepada para produsen tersebut, serta biaya untuk perusahaan perdagangan yang berpartisipasi sebagai petugas pengadaan, tidak diungkapkan.

Para produsen akan diizinkan untuk mengambil persediaan material mereka selama perusahaan-perusahaan tersebut mengisinya kembali. Dalam kasus gangguan pasokan besar, mereka akan dapat mengakses semuanya.

Baca Juga: Iran Pertimbangkan Buka Lagi Diplomasi Nuklir dengan AS, Isu Rudal Jadi Ganjalan

Elemen kunci dalam rancangan usaha ini adalah bahwa produsen yang berkomitmen untuk membeli sejumlah bahan tertentu dengan harga tetap juga berkomitmen untuk membeli kembali jumlah yang sama dengan biaya yang sama di masa mendatang. Pemerintah melihat hal itu sebagai mekanisme penstabil, yang membantu menekan volatilitas.

Upaya ini mirip dengan cadangan minyak darurat yang sudah ada di negara tersebut. Namun, alih-alih minyak mentah, fokusnya adalah mineral yang digunakan dalam produk-produk seperti iPhone, baterai, dan mesin jet, seperti galium dan kobalt.

Persediaan tersebut diperkirakan akan mencakup unsur tanah jarang dan mineral penting, serta unsur-unsur strategis penting lainnya yang harganya berfluktuasi.

Ini merupakan komitmen besar untuk mengakumulasi mineral yang dianggap penting bagi industri, termasuk sektor otomotif, kedirgantaraan, dan energy. Strategi ini menyoroti upaya Trump untuk melepaskan rantai pasokan AS dari China, penyedia dan pengolah mineral penting terbesar di dunia.

Baca Juga: Harga Minyak Turun 5% Setelah Trump Ungkap Iran Berunding dengan AS

Menurut sumber Bloomberg, sejauh ini proyek ini telah diikuti oleh lebih dari selusin perusahaan. Di antaranya ada General Motors Co., Stellantis NV, Boeing Co., Corning Inc., GE Vernova Inc., dan Google milik Alphabet Inc.

Tiga perusahaan perdagangan komoditas, yakni Hartree Partners LP, Traxys North America LLC, dan Mercuria Energy Group Ltd., telah menandatangani perjanjian untuk menangani pembelian bahan baku guna mengisi persediaan tersebut.

Trump juga dijadwalkan bertemu dengan CEO GM Mary Barra, dan miliarder pertambangan Robert Friedland, yang mewakili produsen dan pengguna mineral penting.

AS sudah memiliki cadangan mineral penting nasional untuk melayani basis industri pertahanan negara, tetapi tidak memiliki cadangan untuk kebutuhan sipil. Di bawah Trump, AS juga berinvestasi langsung di perusahaan mineral domestik untuk meningkatkan produksi dan pengolahan logam tanah jarang di dalam negeri.

Baca Juga: Donald Trump Menunjuk Kevin Warsh sebagai Calon Ketua Federal Reserve Selanjutnya

Pemerintah AS juga telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Australia, Jepang, Malaysia, dan negara-negara lain mengenai masalah ini. Pemerintah akan mendesak lebih banyak negara untuk mengejar pakta semacam itu selama pertemuan puncak puluhan negara yang akan berlangsung di Washington, Rabu (4/2/2026).

Upaya untuk mengurangi risiko dalam rantai pasokan mineral mendapatkan momentum baru tahun lalu, setelah China memperketat kontrol ekspor pada beberapa material. Pengetatan tersebut mendorong beberapa produsen AS untuk mengurangi produksi dan menggarisbawahi besarnya pengaruh Beijing.

Selanjutnya: IHSG Ambruk 4,88% ke 7.922, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing di Awal Pekan

Menarik Dibaca: Fiesta Ajak Pasangan Eksplor Agar Hubungan Seks Tak Membosankan