KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas turun tipis setelah melaju kencang sejak akhir tahun. Rabu (11/1) pukul 22.25 WIB, harga emas spot turun tipis ke US$ 1.871,96 per ons troi. Harga emas turun dari US$ 1.877,03 per ons troi yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2022. Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menilai, penguatan harga emas setidaknya terjadi akibat empat alasan utama. Pertama, prospek ekonomi global tahun 2023 yang dinilai kurang bagus. Kedua, berkurangnya agresivitas kenaikan suku bunga. Ketiga, permintaan atau pembelian fisik dari bank-bank sentral dunia sebagai cadangan devisa. Keempat, faktor musiman, seperti perayaan Imlek dan Diwali.
Menurut Alwi, beberapa bank sentral dunia sudah melihat akan terjadinya perlambatan ekonomi global tahun ini. The Fed misalnya yang hanya mematok pertumbuhan sebesar 0,5%. Baca Juga: Harga Bitcoin dan Ether Kembali Naik, Simak Prediksi Pergerakannya ke Depan Begitu pula dengan bank sentral di kawasan Eropa yang memangkas perkiraan proyeksi pertumbuhan mereka di tahun 2023 ini lebih rendah daripada proyeksi bulan September 2022. Artinya, mereka memandang bahwa ekonomi global saat ini masih dibayangi dengan ketidakpastian. “Ini masih mendukung emas sebagai safe haven. Belum lagi, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di awal tahun ini mengatakan prospek di tahun 2023 akan lebih sulit daripada tahun 2022,” kata Alwi kepada Kontan.co.id, Rabu (11/1). Alwi menambahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2023 yang dinilai akan suram memaksa investor kemungkinan akan merotasi dana dan cenderung mencari aset aman, salah satunya emas. Baca Juga: Kurangi Ketergantungan Dolar Jadi Faktor Beberapa Negara Pertebal Cadangan Emas Alwi memprediksi prospek kenaikan harga emas akan terus terjadi sampai akhir tahun 2023. Menurut dia, harga emas dunia akan mencapai resistance US$ 2.070 per ons troi pada akhir semester I.