Ini Jajaran Direksi dan Komisaris Danantara Sumberdaya, Ada Bos Freeport Tony Wenas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI resmi mengumumkan jajaran direksi dan dewan komisaris. Luke Thomas Mahony memimpin DSI sebagai Direktur Utama, sedangkan Komisaris Utama dijabat oleh M. Syaifurrahman Noer.

Di dewan komisaris DSI muncul nama Clayton Allen Wenas alias Tony Wenas. Direktur Utama PT Freeport Indonesia tersebut diangkat sebagai Komisaris DSI. Selain Tony, ada nama Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan periode 2004 – 2011.

Berikut daftar lengkap jajaran direksi dan dewan komisaris DSI:


Direksi:

  • Direktur Utama: Luke Thomas Mahony
  • Direktur Keuangan dan Treasury: Sinthya Roesly
  • Direktur Manajemen Risiko: Nur Hidayat Udin
  • Direktur Hukum & Kepatuhan: Ivan Ferdiansyah Baely
Komisaris:

  • Komisaris Utama: M. Syaifurrahman Noer (Cipung Noer)
  • Komisaris: Tony Wenas
  • Komisaris: Mari Elka Pangestu
  • Komisaris: Harold Tjiptadjaja.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menyatakan bahwa DSI menjalankan mandat untuk memperkuat visibilitas dalam ekosistem komoditas strategis Indonesia. Sekaligus meningkatkan pemahaman yang lebih komprehensif atas transaksi ekspor, dinamika pasar, serta memaksimalkan nilai bagi perekonomian nasional. 

Baca Juga: Industri Suku Cadang Motor Listrik Disebut Berpeluang Tumbuh, Ini Syaratnya

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi sumber daya saja tidak cukup. Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, visibilitas yang lebih baik, dan sistem yang lebih akuntabel untuk memastikan nilai yang dihasilkan dari komoditas-komoditas ini dicatat dan dioptimalkan dengan baik bagi kepentingan nasional,” kata Rosan dalam agenda Peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor SDA, Senin (24/8/2026).

DSI dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis (PP 24/2026). Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI telah mulai menjalankan  tahapan operasional yang mencakup komoditas batubara, kelapa sawit (CPO), dan ferroalloy.

Progres Pelaksanaan Ekspor Satu Pintu via DSI

Merujuk keterangan yang disampaikan oleh Danantara, DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor yang merepresentasikan lebih dari US$ 14 miliar dalam nilai ekspor dan lebih dari 90 juta ton komoditas. Perdagangan ini bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi, menuju lebih dari 100 negara tujuan.

Dengan mengintegrasikan data dengan referensi pasar global, DSI tengah membangun visibilitas transaksi yang lebih komprehensif, yang menghubungkan harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, serta pasar tujuan ekspor. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai alur perdagangan dan nilai komoditas strategis Indonesia sepanjang rantai ekspornya.

Baca Juga: Ekonom: Hilirisasi Sawit Buka Peluang UMKM Menembus Pasar Ekspor

DSI juga berfokus pada integrasi data ekspor nasional dan pelaksanaan analitik pada tingkat transaksi dengan memanfaatkan sistem pemerintah yang telah ada serta referensi pasar global. Seiring meningkatnya visibilitas pada tingkat transaksi, DSI mulai mengidentifikasi area-area di mana nilai dapat ditingkatkan dan ditangkap secara lebih optimal di seluruh ekosistem.

Analisis awal yang dilakukan DSI bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan adanya potensi optimalisasi nilai sekitar US$ 5 miliar per tahun. Sebagai bagian dari pengembangan platform, DSI melibatkan para pelaku industri untuk memastikan sistem yang dibangun selaras dengan dinamika perdagangan dan tetap menjaga keberlanjutan ekspor. 

DSI pun telah menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

MoU tersebut bertujuan untuk membentuk Industry Task Force yang akan menguji coba platform, memberikan masukan langsung dari industri, serta mengidentifikasi dan menyelesaikan potensi isu sebelum implementasi yang lebih luas. 

Direktur Utama DSI, Luke Mahony menegaskan fokus DSI saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas untuk mengimplementasikan mandatnya secara kredibel, terukur, dan berkelanjutan. Luke menjelaskan, sejak mulai beroperasi, DSI telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI.

"Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor,” ungkap Luke.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News