Ini jurus Mitrabara Adiperdana hadapi penurunan harga batubara



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Tren penurunan Harga Batubara Acuan (HBA) masih berlanjut hingga Juni 2019 menjadi US$ 81,48 per ton. Nilai ini turun tipis 0,46% dari HBA Mei yang berada di angka US$ 81,86%, asal tahu saja tren penurunan HBA ini tak kunjung berhenti sejak September 2018 silam.

Adanya penurunan HBA ini membuat salah satu pemain industri batubara yakni PT Mitrabara Adiperdana Tbk menyusun strategi di tengah penurunan harga batubara. Direktur Utama Mitrabara Adiperdana, Widada mengaku penurunan harga batubara merupakan faktor eksternal yang tak dapat diprediksi oleh perusahaan. Oleh karena itu untuk menghadapi penurunan harga batubara mereka terus memperketat biaya produksi mereka.

Tahun ini mereka menargetkan adanya pengurangan biaya produksi sebesar 10% hingga 15%. “Kita harus memastikan biaya di bawah harga jual,” ungkapnya usai paparan publik Mitrabara Adiperdana, Rabu (12/6).


Asal tahu saja, emiten bersandi MBAP ini memiliki produksi batubara berkualitas tinggi dengan medium calorie value yang mempunyai kandungan abu dan sulfur rendah yakni dengan kalori 5000 kcal per kg, 5200 kcal per kg, 5400 kcal per kg, dan 5700 kcal per kg, sehingga diminati oleh pasar premium.

Ia bilang, untuk tahun ini mereka fokus penjualan batubara ke pasar yang sudah ada saat ini atau existing seperti India, China, dan Jepang. MBAP bakal mengeduk batubara sebanyak 4 juta ton, atau naik 11% dari realisasi produksi tahun lalu 3,6 juta ton batubara. Hingga Mei 2019 mereka sudah berhasil memproduksi sebanyak 1,8 juta ton batubara dengan jumlah batubara bawaan dari 2018 sebesar 380.000 ton.

Untuk tambang yang berlokasi di Malinau Kalimantan Utara, saat ini total cadangan batubara mereka sekitar 25 hingga 28 juta ton. Makanya, kini mereka terus membuka peluang untuk menambah candangan batubara lagi.

Selain di Kalimantan, mereka juga memiliki 26% saham pada PT Duta Bara Utama (DBU) yakni perusahaan tambang batubara yang terletak di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Widada menuturkan pihaknya optimis mampu melakukan produksi pada akhir kuartal III-2019.

“Selama ini kita memang menjaga produksi 3,5 juta ton hingga 4 juta ton per tahun untuk tambang di Kalimantan, untuk DBU kita targetkan tahun pertama bisa peroduksi 1 juta ton per tahun,” imbuhnya.

Selain itu, kini pihaknya juga tengah melakukan penjajakkan pasar untuk penjualan batubara dari DBU tersebut. Tak hanya itu, mereka juga sudah menunjuk kontraktor untuk memulai produksi di tambang yang berlokasi di Muara Enim itu. Namun ia mengaku belaum ada rencana untuk memperbesar porsi saham di DBU, tahun lalu mereka baru saja meningkatkan kepemilikan saham DBU menjadi 26%.

MBAP rupanya juga tertarik untuk melakukan akuisisi tambang batubara lagi untuk menambah cadangan dan tak hanya terpaku untuk mengoptimalkan produksi di Duta Bara Utama. “Mungkin kalau kita ada jodoh, akan ada tambang baru. Saat ini kita masih cari,” tuturnya.

Adapun beberapa kriteria tambang yang mereka cari ialah tambang dengan produksi batubara yang memiliki kalori yang cukup bagus sehingga tak terpengaruh dengah fluktuasi harga batubara. “Banyak faktornya, ada faktor kedekatan dan potensi ekonomi yang baik dan harga yang sesuai,” jelasnya.

Meski begitu ia menyebut belum ada dana khusus yang dialokasikan untuk mengakuisisi tambang tersebut. Untuk tahun 2019 mereka mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 4,97 juta yang diperoleh dari kas internal dan akan banyak digunakan untuk perawatan alat berat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Azis Husaini