Ini Kredo yang Mengantarkan Estonia Menjadi Masyarakat Digital Terdepan Sedunia



KONTAN.CO.ID - TALLINN/JAKARTA.  Anda pernah bertemu dengan seorang asing yang kesulitan membubuhkan tanda tangan di atas kertas? Sangat mungkin, ia merupakan warga Estonia.  Mengutip publikasi Estonia: Look and Beyond itu, anekdot itu sesungguhnya tidak keliru. Warga Estonia, apalagi yang berusia di bawah 30 tahun, sangat terbiasa dengan digitalisasi. Termasuk pengurusan dokumen kependudukannya.

Thomas Hendrik Ilves, Presiden Estonia pada tahun 2006-2016, punya deksripsi sendiri tentang betapa maju digitalisasi di negerinya. “Hanya ada tiga urusan dengan pemerintah saat ini, yang mengharuskan kehadiran fisik. Masing-masing adalah menikah, menjual real estate dan terakhir, bercerai,” ujar Ilves.

Catatan saja, kutipan itu muncul dalam wawancara Ilves dengan publikasi F&B, yang kemudian diunggah di website IMF, pada tahun 2018. Atau, sekitar 22 tahun sejak Estonia menggulirkan Tiger Leap, program pembangunan infrastruktur teknologi informasi.  


Jika dalam periode dua dekade lebih itu infrastruktur digital Estonia bisa berkembang sedemikian pesat, penyebabnya semata Pemerintah Estonia seakan tak pernah kehabisan agenda. Itu sesuai dengan kredo yang mereka nyatakan, yaitu terus menerus mencari dan mengembangkan solusi yang memungkinkan sesuatu terlaksana dengan lebih cepat, lebih baik dan lebih murah. 

Dari berbagai agenda, X-Road dan ID-card ini perlu disoroti sebagai pencapaian penting bagi pembentukan digital society ala Estonia di tahap awal. X-Road merupakan sistim pertukaran data yang aman di antara pemerintah dan pihak swasta. Sistim ini dikembangkan oleh Cybernetica, perusahaan yang berakar dari Institute of Cybernetics.

X-Road ini yang memungkinkan pengumpulan data kependudukan hanya berlangsung sekali saja. Jika seseorang sudah pernah menyetorkan data kependudukannya, maka ia tidak perlu lagi mengulang hal serupa. Ini berlaku tidak hanya untuk kepentingan administrasi pemerintahan, tetapi juga untuk urusan dengan pihak swasta, ambil contoh perbankan. 

Ambil contoh, data XYZ sudah terekam dalam database pemerintah Estonia. Begitu, XYZ hendak membuka rekening di sebuah bank di Estonia, ia tidak perlu lagi menyetorkan datanya. Karena bank tersebut bisa memanfaatkan X-Road untuk mendapatkan data XYZ.

Yang menarik, pertukaran data semacam itu tidak berarti data si XYZ bertebaran ke mana-mana. Karena seluruh data milik XYX itu terkunci dalam database, dan kuncinya hanya dipegang oleh XYZ sendiri. Bentuk kunci itu tak ubahnya two step identification yang ada dalam aplikasi mobile.

“Setiap orang masih memiliki datanya sendiri,” tutur Johanna-Kadri Kuusk, Digital Transformation Adviser e-Estonia Briefing Centre. Lalu, bagaimana data bisa dipertukarkan? Itulah manfaat  X-Road, yang kini memanfaatkan teknologi blockchain untuk memastikan keamanan.  Lapisan pengaman X-Road membatasi akses pihak yang meminta data.  Mereka hanya bisa melihat data, yang relevan dengan kebutuhan mereka.  

Dan yang lebih memberikan rasa tenang ke si pemilik data, sistim X-Road akan menampilkan catatan tetang siapa saja yang meminta data mereka, dan untuk keperluan apa data tersebut diminta. Jadi, tidak ada cerita tentang adanya institusi yang bisa mengintip data seorang penduduk. Ini lah bentuk konkrit dari pernyataan bahwa data masih dimiliki oleh individu yang bersangkutan.

Kemudahan, berupa pengumpulan data yang hanya berlangsung sekali, serta kepastian tentang privasi, yaitu data tidak berpindah tangan ke pihak yang tidak jelas, menjadi alasan mengapa rakyat Estonia tak ragu berpartisipasi dalam program digitalisasi yang diinisiasi oleh pemerintahnya.  

Apalagi, Estonia juga membuktikan kemampuannya dalam menjaga keamanan data. Negeri itu tercatat pernah mengalami cyber attack di tahun 2007. Bentuk serangan semacam  distributed denial of service (DDOS). Sederhananya, serangan ini bertujuan melumpuhkan layanan dengan cara membanjiri server atau jalur komunikasi dengan gelombang query palsu yang dihasilkan oleh banyak jaringan robot.

Setelah serangan itu, X-Road lantas menambah fitur pengamanan semacam jejak waktu di lapisan pertukaran datanya.  Nilai positif dari serangan itu, Estonia berada di garis terdepan negara-negara yang mengutamakan cybersecurity. NATO Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence dan EU IT Agency saat ini berkantor pusat di Tallinn. Mengantisipasi perkembangan artificial intelligence, Pemerintah Estonia menyiapkan rencana strategis yang detail seputar pemanfaatan AI sebagai solusi di sektor public maupun privat. Implementasi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengelolaan data public adalah munculnya tema proactive government.

Istilah itu merujuk ke pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memberikan mengidentifikasi layanan yang dibutuhkan publik. Tujuannya untuk memastikan layanan publik tersedia dengan melibatkan sesedikit mungkin birokrasi.

Implementasi proactive government dalam pengelolaan data publik, misalnya terlihat saat kelahiran seorang bayi. Tanpa orangtua dari si bayi yang baru lahir melakukan pengajuan pemrosesan data apa pun, Pemerintah Estonia otomatis akan meng-create berbagai identitas, yang berarti layanan dan manfaat, untuk si bayi.