Ini pembelaan bos Yamaha di sidang kartel skutik



Jakarta. Gelar perkara dugaan kartel yang melibatkan dua produsen motor skutik PT Yamaha Motor Indonesia Manufacturing (YMIM) dan PT Astra Honda Motor (AHM) kembali di gelar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Dalam persidangan, Rabu (16/11) tim investigator KPPU mendatangkan mantan Presiden Direktur YMIM Yoichiro Kojima sebagai saksi. Adapun dalam hal ini Yoichiro didatangkan karena ia lah yang menuliskan surat elektronik (email) terkait pernyataan penyesuaian harga motor YMIM dengan HPM.

Dalam persidangan pun Yoichiro pun mengakui bahwa dirinya yang menuliskan email tersebut kepada Dyonsius Beti Executive Vice President YMIM. Meski begitu, dirinya menyangkal email tersebut dikirim untuk menyesuaikan harga dengan HPM.


Adapun dari email yang dilansir investigator di persidangan, Yoichiro menuliskan, kita perlu mengirim surat kepada Honda bahwa Yamaha menyesuaikan harga Honda yang meningkat untuk mengatasi pertukaran nilai mata uang atau nilai UMR pekerja sebagai isu yang sering timbul di industri otomotif.

"Maksud harga di email itu untuk menggambarkan brand value (kualitas) bukan soal harga," tuturnya dalam persidangan.

Adapun kenapa hanya Honda yang disebut, ia bilang, karena tak hanya di Indonesia melainkan negara lain sudah mengetahui kalau Yamaha dengan Honda merupakan pesaing yang head to head.

Dirinya juga menyampaikan, tidak ada kelanjutan setelah mengirim email itu kepada tim internal perusahaan. Kendati begitu, ia mengakui setelah email itu dikirim memang ada kenaikan harga. Tapi kenaikan harga pun juga terjadi sebelum adanya email tersebut, jadi kenaikan harga tidak ditentukan oleh email yang dikirim pada 28 April 2014 lalu itu.

Atas pernyataan tersebut, salah satu investigator KPPU Helmi Nurjamil berpendapat, secara substansi sudah terlihat YMIM melakukan penyesuaian harga. Hal itu terlihat dari email yang mengandung "follow price, please and adjust price".

Selanjutnya, kenapa pihak YMIM minta adanya kenaikan harga pada April sedangkan kedua isu yang disampaikan dalam email itu sudah terjadi dari jauh-jauh hari seperti kenaikan UMR yang sudah terjadi pada Januari 2014.

"Lalu kenapa juga Yamaha ingin menyamakan harga dengan Honda? Padahal konsumen menginginkan harga yang variatif, kalau ingin disamakan maka sudah melanggar persaingan usaha," jelas Helmi.

Soal pengiriman email, ia bilang kenapa harus dikirimkan ke Dyon yang bertugas mengesuaikan harga di grup marketing manajemen. Padahal kalau ingin menyetarakan kualitas, email tersebut seharusnya dikirimkan ke bagian RnD (research and development).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto