KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) memberikan penjelasan terkait beda arah raihan pendapatan dan laba bersih per Semester I 2026. Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan usaha ADHI tercatat Rp 3,11 triliun per Juni 2026. Ini turun 18,35% dari Rp 3,81 triliun dari periode sama tahun lalu. Namun, ADHI mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,49 miliar per Juni 2026, naik 12,56% YoY.
Direktur Portofolio Bisnis & Risiko ADHI, Rozi Sparta mengatakan, laba ADHI meningkat karena adanya peningkatan margin laba kotor akibat klaim atas
interest during payment dari proyek LRT Jabodebek.
Baca Juga: Rupiah Masih Sulit Bangkit, Kenaikan CDS dan Outflow Asing Jadi Sorotan “Sedangkan pendapatan ADHI turun dikarenakan adanya penurunan produksi untuk proyek-proek besar ADHI yang hampir selesai yaitu Tol Solo Jogja, Tol Jogja Bawen dan Pusri,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026). Per Juni 2026, nilai kontrak ADHI mencapai Rp7,8 triliun sudah mencapai 34% - 39% dari total target kontrak baru ADHI sebesar Rp20 triliun - Rp 23 triliun. Ditinjau dari segmen lini bisnis, komposisi perolehan kontrak baru terdiri dari 94%
engineering & konstruksi, 2% manufaktur, 2%
property & hospitality, dan 2% investasi & konsesi. Berdasarkan sumber pendanaan komposisinya terdiri dari 73% Pemerintah, 25% BUMN, dan 2% Swasta. “Berdasarkan tipe pekerjaan, komposisinya terdiri dari 43% Infrastruktur Sumber Daya Air, 24% jalan dan jembatan, 12% gedung, 8% EPC, dan sisanya lainnya Rozi mengatakan, ADHI berupaya untuk menjaga arus kas ADHI dengan cara penagihan proyek-proyek besar seperti LRT Jabodebek dan Tol Aceh – Sigili. Selain itu, ADHI juga memilik rencana divestasi beberapa proyek afiliasi yang saat ini semuanya masih berproses. Oleh karena itu, ADHI mengalami tekanan terhadap arus kas sebagai dampak dari belum optimalnya penerimaan kas yang mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga obligasi. Sebagai gambaran, per akhir Juni 2026, ADHI memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 813,09 miliar, turun jauh dari Rp 1,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu. ADHI juga berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi Berkelanjutan (RUPO) IV Adhi Karya Tahap I Tahun 2024 dan Rapat Umum Pemegang Obligasi Berkelanjutan (RUPO) III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022. Kedua RUPO itu dijadwalkan pada 6 Agustus 2026. Untuk RUPO Obligasi Berkelanjutan IV Adhi Karya Tahap I Tahun 2024, agendanya adalah meminta persetujuan terkait perubahan dan/atau penundaan pembayaran bunga ke-8, ke-9, dan ke-10.
Untuk RUPO Obligasi Berkelanjutan III Adhi Karya Tahap III Tahun 2022, agendanya adalah meminta persetujuan terkait perubahan dan/atau penundaan pembayaran bunga ke-17, ke-18, dan ke-19. “Sehubungan dengan kondisi tersebut Perseroan bermaksud mengajukan usulan penundaan pembayaran bunga kepada Pemegang Obligasi sebagai bagian dari upaya penyesuaian kewajiban yang dilakukan secara terbuka, terukur, dan dengan tetap memperhatikan kepentingan seluruh Pemegang Obligasi,” paparnya.
Baca Juga: Indeks Saham Syariah Bangkit dari Tekanan, Sektor Energi dan Komoditas Jadi Penggerak Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News