Ini Penyebab Investor Asing Hengkang dari Pasar Saham Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor asing terpantau mulai hengkang dari pasar saham Indonesia. Ini disebabkan oleh kekhawatiran investor akan keputusan The Fed dalam FOMC pekan depan. 

Pada Senin (11/9), asing tercatat melakukan beli bersih alias net buy senilai Rp 891,37 miliar. Adapun sepanjang 2023, investor asing mencetak net sell sebesar Rp 1,39 triliun. 

Padahal hingga Juli 2023, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp 18,92 triliun. Namun sejak Agustus 2023, investor asing mulai melakukan aksi penjualan. 


Baca Juga: IHSG Menguat 0,56% ke 6.963 Pada Senin (11/9), KLBF, INKP, BUKA Jadi Top Gainers LQ45

Investor asing terpantau tercatat melakukan net sell terbesar pada TLKM sebesar Rp 2,3 triliun sepanjang 2023. Ini turut menekan harga TLKM 1,33% secara year to date (ytd) ke level Rp 3.700. 

Asing juga tercatat melakukan net sell pada saham UNTR, ARTO, BTPS dan PGAS masing-masing sebesar Rp 1 triliun, Rp 859,5 miliar, Rp 780,1 miliar dan Rp 758,8 miliar. 

Equity & Economics Analyst KGI Sekuritas Rovandi menjelaskan aski penjualan ini dilakukan oleh asing karena The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sampai 5,75% sehingga memberikan tekanan. 

"Sebab spread antara Bank Indonesia (BI) Rate dan The Fed sangat tipis, jadi tidak menarik untuk investasi di Indonesia," ucap Rovandi saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (11/9). 

Hingga saat ini, suku bunga BI berada di level 5,75%. Sementara suku bunga The Fed berada di level 5,25%–5,5% dan menjadi yang tertinggi sejak 2011.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, kalau The Fed menaikkan suku bunga, investasi di Amerika akan lebih menarik. 

Ini berpotensi adanya perpindahan aliran dana ke instrumen lain. Saat suku bunga naik, Nico menyebut ada kemungkinan imbal hasil US Treasury akan ikut terkerek. 

"Imbal hasil SUN juga akan mengalami penurunan, sehingga harga obligasi kian murah. Ini menjadi sebuah kesempatan bagi asing untuk melirik pasar obligasi," ucap dia. 

Memang secara fundamental, Indonesia masih kuat. Namun untuk bisa kembali memikat investor asing, sentimen pemilu bisa menjadi angin segar di pasar. 

Apalagi pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden akan dimulai pada Oktober mendatang. Menurut Nico, kalau pasangan capres dan cawapres bisa menggerakkan pasar. 

Baca Juga: IHSG Menguat ke 6.937 di Sesi I Senin (11/9), BUKA, KLBF, ARTO Top Gainers LQ45

"Apabila calon tersebut punya probabilitas kemenangan yang tinggi dan disukai oleh pasar, bukan tidak mungkin pasar akan bergerak menjelang pemilu," katanya. 

Rovandi menilai untuk bisa kembali memanggil investor asing yang sudah pergi, kenaikan suku bunga BI menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh. 

Dia memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) sebelum akhir 2023. Memang ketika suku bunga naik, pertumbuhan ekonomi dalam negeri berpotensi tertekan.

Meski dilanda aksi jual bersih investor asing, Nico menyarankan investor untuk tetap mencermati fundamental dan prospek potensi valuasi masing-masing emiten. 

Memang larinya investor asing menyebabkan penurunan harga saham. Namun investor bisa melakukan akumulasi saat harga sedang turun. 

"Jika dikalkulasikan bahwa saham tersebut masih bagus dan memberikan potensi di masa yang akan datang, beli merupakan kesempatan," kata Nico. 

NICO menjagokan TLKM, UNTR dan PGAS. Dalam hitungannya, target harga TLKM ada di Rp 4.687, UNTR di Rp 30.980 dan PGAS Rp 1.632.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi