Ini Penyebab Laba Chandra Asri (TPIA) Turun: Ada Efek Negatif Goodwill Akuisisi Aster



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) akhirnya buka suara terkait penurunan laba bersih yang dibukukan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Manajemen menyebut, merosotnya laba secara tahunan tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja operasional perusahaan karena dipengaruhi keuntungan akuntansi satu kali dari akuisisi Aster pada tahun lalu.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Pacific Suryandi mengatakan, laba TPIA pada Januari-September 2025 turut ditopang keuntungan pembelian dengan harga diskon atau bargain purchase gain yang juga dikenal sebagai negative goodwill.


Baca Juga: Tak Hanya Perusahaan Besar, BEI Kini Bidik UMKM untuk Melantai di Bursa

Nilai keuntungan akuntansi tersebut mencapai hampir US$ 1,8 miliar. Pos ini muncul dari transaksi akuisisi Aster pada 2025 dan bersifat satu kali atau one-off.

Menurut Suryandi, keuntungan tersebut bukan merupakan penerimaan kas dari kegiatan operasional perusahaan. Karena itu, manajemen menilai perbandingan kinerja laba antara sembilan bulan pertama 2025 dan periode yang sama 2026 perlu memperhitungkan dampak transaksi tersebut.

"Kalau dibandingkan seperti itu saja, tidak apple-to-apple. Sebab angka sembilan bulan 2025 itu ada satu pos accounting yang disebut negative goodwill. Kalau itu saya keluarkan, malah naik," ujar Suryandi dalam sesi Diskusi Forwin dengan tema “Transformasi Chandra Asri: Memperkuat Daya Saing Industri, Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan” di Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026).

Ia menegaskan, angka laba yang tercantum dalam laporan keuangan tetap mengikuti pencatatan akuntansi yang berlaku. Namun, untuk melihat perkembangan bisnis secara lebih sebanding, investor perlu memisahkan keuntungan akuntansi dari transaksi akuisisi tersebut.

"Iya, di sana tetap itu. Karena harus secara akuntansi," kata Suryandi saat dikonfirmasi mengenai pencatatan laba dalam laporan keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan, TPIA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 279,81 juta hingga September 2026. Realisasi ini merosot 78,43% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan laba bersih US$ 1,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Oktober Penuh Tekanan, Mayoritas Reksadana Batavia AM Masih Positif

Penurunan laba tersebut terjadi meskipun pendapatan perseroan tumbuh signifikan. TPIA mencatatkan pendapatan sebesar US$ 8,18 miliar hingga September 2026, meningkat 60,50% yoy dibandingkan US$ 5,10 miliar pada Januari-September 2025.

Suryandi menyebut, pendapatan perseroan meningkat dari sekitar US$ 5 miliar menjadi hampir US$ 8,2 miliar. Dari sisi EBITDA, kinerja TPIA juga berbalik positif menjadi hampir US$ 1 miliar, dibandingkan posisi negatif US$ 32 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Manajemen juga memaparkan penghasilan komprehensif sebesar US$ 395 juta pada sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut berbalik dari posisi negatif US$ 153 juta pada periode pembanding setelah mengecualikan dampak keuntungan akuisisi.

"Yang ingin kami tekankan adalah strategi diversifikasi dan transformasi yang Chandra Asri lakukan sejak 2025 dengan akuisisi Aster, Shell, Chevron, SPBU, lalu kemudian dengan infrastruktur, selama sembilan bulan di 2026 itu memberikan hasil yang sangat baik," jelas Suryandi.

Di sisi beban, peningkatan pendapatan TPIA juga diikuti kenaikan beban pokok dan produksi. Beban bahan baku serta produksi dan manufaktur tercatat sebesar US$ 7,22 miliar hingga September 2026, meningkat dibandingkan US$ 5,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

 
TPIA Chart by TradingView

Beban penyusutan naik menjadi US$ 249,61 juta dari US$ 152,12 juta. Sementara itu, beban keuangan meningkat menjadi US$ 306,25 juta dari sebelumnya US$ 178,68 juta.

Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak TPIA tercatat sebesar US$ 409,07 juta hingga September 2026, turun dari US$ 1,55 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Suryandi menambahkan, strategi diversifikasi bisnis yang dilakukan perseroan diharapkan dapat memperkuat fundamental perusahaan. Selain meningkatkan kinerja, pengembangan bisnis juga diarahkan untuk membuka kesempatan kerja dan menjamin ketersediaan pasokan bagi industri hilir. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News