Ini prospek saham emiten menara telko 2017



JAKARTA. Kinerja emiten menara telekomunikasi sepanjang tahun ini relatif masih bagus, meskipun sahamnya sempat mengalami penurunan, namun masih terbilang wajar. Untuk tahun depan, bisnis penyewaan tower masih bagus meskipun belum sampai pada kategori bombastis.

Kebutuhan jaringan telekomunikasi yang kian tinggi menjadikan prosepek bisnis penyewaan menara selular ini masih tinggi. Apalagi penetrasi internet di Indonesia terbilang masih rendah.

Emiten yang bergerak di bidang ini diantaranya yaitu PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), dan PT Bali Towerindo Tbk (BALI).


Kepala Riset Erdhika Securities, Wilson Sofan menyampaikan jika dlihat dari perkembangan internet ke depan dan perkembangan smartphone maka bisnis ini masih terbilang bagus meskipun belum sampai pada yang bombastis.

“Intinya, bisnis ini tergantung pada consumer. Sebab mereka hanya menyediakan infrastruktur tower kepada provider telepon, internet dan lainnya,” ujar Wilson kepada KONTAN, Jumat (23/12).

Kelebihan dari emiten ini, kata Wilson, mereka punya cash flow yang mudah untuk diprediksi. Sebab, mereka mempunyai kontrak penyewaan tower dengan jangka panjang bias sampai 15 – 20 tahun. Dengan ini, tentunya akan lebih mudah diprediksi saham-saham emiten menara.

Kemudian, jika dilihat dari kinerja, emiten dengan kode jual TOWR yang paling bagus, disusul oleh TBIG, sedangkan emiten lainnya kinerjanya terbilang biasa-baiasa saja. Hal itu bias dilihat bahwa net profit margin TOWR itu mencapai 75%,sedangkan pesaingya seperti TBIG itu hanya 10% dan yang lainnya relative sama..

Begitupun kalau bicara saham, TBIG relatif lebih bisa diprediksi dibandingkan TOWR dan emiten lainnya. Sebab TBIG teknikalnya masih ada sedangkan TOWR relatif sudah bisa dikatakan kurang liquid.

Sementara Analis Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe menyampaikan pada dasarnya bisnis ini jika tidak ada penambahan menara atau pelanggan pendapatan dan net profit maka akan sama dengan tahun ini. "Tidak akan berbeda jauh dari tahun ini," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto