Ini proyeksi dampak akuisisi Pinehill terhadap kondisi keuangan Indofood CBP (ICBP)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) untuk mengakuisisi Pinehill diperkirakan bakal berdampak signifikan bagi kondisi keuangan emiten produsen mi instan tersebut. Terlebih, dana akuisisi yang mencapai kisaran US$ 2,9 miliar atau setara Rp 44 triliun tersebut akan didanai dari pinjaman pihak ketiga dan juga internal kas.

Riciannya, ICBP berencana untuk menggunakan kas internal sebesar US$ 300 juta sementara sisanya sebesar US$ 2,69 miliar (Rp 40 triliun) akan berasal dari pendanaan pihak ketiga. 

Baca Juga: Pasar respons negatif akuisisi Pinehill, saham INDF dan ICBP anjlok


Analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto memprediksi, transaksi ini berpotensi meningkatkan rasio gearing ICBP pada 2020 menjadi di atas 100% dari posisi di kuartal I-2020 yang berada di level 9,7%.

“Dengan asumsi pinjaman dolar AS memiliki tingkat bunga 3%, pinjaman ini akan menambah sekitar Rp 1,2 triliun ke beban keuangan tahunan ICBP,” papar Natalia, Selasa (26/5).

Sisi baiknya, transaksi ini bakal semakin mengukuhkan posisi ICBP sebagai produsen mi instan terkemuka di dunia. Natalia mengatakan, akuisisi ini akan memberikan tambahan volume penjualan sekitar 7,6 miliar bungkus per tahun (dibandingkan sekitar 14 miliar bungkus per tahun di Indonesia) untuk ICBP.

laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate atau CAGR) Pinehill dalam dua tahun terakhir dari 7 negara (Arab Saudi, Nigeria, Turki, Kenya, Maroko, dan Serbia) mencapai 10%. Pinehill Company memiliki 12 pabrik dengan total kapasitas produksi 10 miliar bungkus per tahun dan jaringan distribusi di 33 negara / wilayah. Pada tahun 2019, pangsa pasar Pinehill di pasar mie instan negara-negara ini sangat dominan, berkisar antara 55%-95%.

Baca Juga: Akusisi Pinehill, CLSA Sekuritas turunkan prospek saham Indofood CBP (ICBP)

Natalia merekomendasikan beli (buy) saham ICBP dengan target harga Rp 11.600 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi