KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rangkaian sentimen geopolitik global dan sikap
wait and see pelaku pasar terhadap rilis data inflasi domestik diperkirakan bakal menahan laju pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan. Mengutip Bloomberg pada Jumat (28/8/2026), rupiah pasar spot ditutup menguat 0,29% atau naik 51 poin ke level Rp 17.693 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan penguatan sebesar 0,33% dari posisi Rp 17.762 menjadi Rp 17.703 per dolar AS.
Dinamika pasar valas global masih dibayangi oleh eskalasi ketegangan politik luar negeri, mulai dari alotnya hubungan diplomatik AS-Iran hingga memanasnya konflik Rusia dengan NATO terkait bantuan militer ke Ukraina.
Baca Juga: Premi Risiko Investasi Menurun, Simak Strategi Bagi Investor Saat Ini Di saat bersamaan, pasar bertindak hati-hati mencermati sinyal suku bunga AS dalam pidato perdana Ketua The Fed, seiring kenaikan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS sebesar 3,7% secara tahunan yang memperkuat ekspektasi ketatnya kebijakan moneter. Dari dalam negeri, sentimen positif sejatinya datang setelah Komisi XI DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Namun, perhatian investor kini teralihkan pada rilis data inflasi dan laporan perdagangan bulan Juli yang berpotensi memengaruhi bayangan biaya impor pangan nasional. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa rilis indikator ekonomi mendatang menjadi acuan utama bagi langkah bank sentral. "Data inflasi ini menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026). Ibrahim menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap biaya distribusi dan pasokan pangan turut menjadi perhatian pasar saat ini. Menurutnya, lonjakan impor pangan mengindikasikan pasokan dalam negeri yang menipis serta melemahnya nilai tukar yang membuat biaya impor semakin mahal.
Baca Juga: Sentimen Global dan Domestik Postif, Rupiah Siap Menguat pada Senin (31/8) Melihat kombinasi penahan dari ranah eksternal dan kehati-hatian investor dalam negeri, pergerakan mata uang Garuda diprediksi masih akan dibayangi tekanan pada perdagangan berikutnya. Ibrahim memproyeksikan, rupiah akan bergerak rentan pada pembukaan pekan. "Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.690 - Rp 17.750," tutup Ibrahim. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News