Ini Proyeksi Yuan China dari Bank Global hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - Sejumlah bank investasi global memperkirakan penguatan yuan China terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih akan terbatas hingga akhir 2026.

Sejumlah institusi memproyeksikan nilai tukar yuan berada di kisaran 6,68 per dolar AS pada akhir tahun.

Mengutip Reuters, yuan telah menguat sekitar 4% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini dan berada di level 6,72 per dolar AS pada perdagangan Senin (31/8/2026).


Baca Juga: Dolar AS Menguat, Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan di Awal Pekan

Meski yuan masih berpeluang menguat, pelaku pasar memperkirakan otoritas China akan tetap berhati-hati terhadap apresiasi mata uang yang terlalu cepat. Permintaan domestik China yang masih lemah menjadi salah satu pertimbangan utama.

Sejumlah proyeksi bank investasi menunjukkan perkiraan yuan pada akhir 2026 berada dalam rentang 6,60-6,75 per dolar AS.

ANZ menjadi salah satu institusi yang paling bullish dengan proyeksi yuan di level 6,60 per dolar AS. Sementara itu, Morgan Stanley memperkirakan yuan berada di kisaran 6,70-6,75.

OCBC memproyeksikan yuan di level 6,71, Maybank 6,73, Goldman Sachs 6,70, sedangkan ING memperkirakan yuan berada di level 6,72 dalam horizon tiga bulan dan 6,69 dalam enam bulan.

Macquarie dan HSBC juga memperkirakan yuan berada di level 6,72 pada akhir tahun. Barclays dan Standard Chartered masing-masing memproyeksikan level 6,65.

Sementara itu, Citi memperkirakan yuan berada di level 6,75 dalam horizon tiga bulan dan 6,70 dalam enam hingga 12 bulan.

Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Minggu, Yen Tertekan Dekati 160

Fundamental China Jadi Penopang

Standard Chartered merevisi proyeksi USD/CNY lebih rendah dengan mempertahankan pandangan bullish terhadap yuan dalam jangka menengah.

Bank tersebut melihat penguatan yuan didukung oleh kekuatan struktural transaksi berjalan China, pesatnya daya saing industri kecerdasan buatan (AI), membaiknya faktor musiman setelah pembayaran dividen, serta dukungan kuat People's Bank of China (PBOC) terhadap internasionalisasi renminbi.

"Faktor-faktor tersebut seharusnya lebih dari cukup untuk mengimbangi hambatan jangka pendek, termasuk tarif AS yang kembali meningkat, ancaman sanksi sekunder, serta perbedaan suku bunga CNY dan dolar AS yang lebar," ujar Standard Chartered.

BofA Securities juga memangkas proyeksi USD/CNY pada akhir 2026 menjadi 6,60 dari sebelumnya 6,70.

BofA menilai konversi pendapatan ekspor menjadi yuan serta nilai yuan yang masih undervalued menjadi faktor utama yang mendukung proyeksi tersebut.

Tekanan dari negara-negara G7 agar China mengatasi ketidakseimbangan perdagangan juga dinilai dapat mendorong penguatan yuan.

Baca Juga: Optimisme Pebisnis Korea Selatan Meningkat, Indeks Investasi Peralatan Melesat

Namun, risiko deflasi China masih menjadi perhatian.

"Berkurangnya permintaan domestik memang membantu menjaga surplus transaksi berjalan tetap tinggi, tetapi juga membawa risiko deflasi utang yang dapat memicu arus modal keluar dalam skenario tekanan," kata BofA Securities.

Dengan demikian, meski fundamental eksternal dan perkembangan sektor teknologi mendukung yuan, ruang penguatannya diperkirakan tetap terbatas karena lemahnya permintaan domestik, potensi tekanan perdagangan dari AS, serta risiko arus modal keluar.