Ini reaksi investor tolak penny stock



Jakarta. Bukan hanya dari kalangan broker, rencana bursa menghapus batas harga saham Rp 50 alias saham gocap tahun depan juga menuai kritik dari para investor.

Ellen May, investor dan Chief Executive Officer (CEO) Ellen May Institute ini menyoroti soal risiko jika batas tersebut dihapus nantinya. "Risikonya, jika dibuka lalu harga sahamnya justru terus turun hingga mendekati nol," katanya kepada KONTAN, Jumat (11/11).

Disisi lain, ia menambahkan, jika batas saham gocap dibuka sejatinya memang berpotensi menambah likuiditas di bursa saham. Sebab, ternyata masih banyak yang melakukan transaksi saham-saham tersebut melalui pasar negosiasi.


Masih ada yang jual, bahkan yang melakukan posisi beli untuk menampung saham-saham yang bahkan harganya sudah berada pada kisaran level Rp 20 per saham.

Tujuannya adalah, spekulasi. Mereka yang menampung saham dibawah harga Rp 50 berharap fundamental emitennya berbalik arah seperti kejadian saham PT Bumi Resources Tbk belakangan ini. "Tapi kalau nyangkut, ini bikin stress juga," tambah Ellen.

Kendati demikian, ia tetap mengikuti apa yang menjadi ketentuan otoritas bursa nantinya. Namun, ia mengingatkan, ketika batas tersebut dibuka, investor juga harusnya menjadi lebih bijak.

Investor harus memahami betul resiko apa yang wajib diterima jika masuk ke saham dengan level harga harga seperti ini. Investor harus memproteksi dirinya dengan lebih mandiri karena batas yang selama ini dibuat otoritas bursa untuk melindungi investor akan dicabut.

"Ini kembali lagi pada profil resiko masing-masing investor, kalau sudah lihat saham harganya gocap, ia harus paham konsekuensi kedepannya nanti seperti apa," jelas Ellen.

Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Susi Meilina mengungkapkan hal senada. Ia pernah bilang, proteksi investor otomatis hilang jika batas tersebut dihapus.

Andai, ada investor yang beli saham Rp 1 miliar dengan harga Rp 1 per sahamnya. Harga saham itu jadi naik Rp 2 misalnya. Investor tersebut sudah untung 100%, portofolionya juga bertambah jadi Rp 2 miliar.

Kelihatannya untung, lalu investor tadi terpancing untuk menambah terus portofolionya hingga Rp 5 miliar misalnya. Apes ketika sudah sampai level itu, tiba-tiba harganya anjlok, bahkan kembali ke Rp 1 per saham. "Membuat harga saham supaya anjlok itu enggak susah, loh," imbuh Susi.

Belum lagi dari segi bisnisnya. Seberapa besar pengaruhnya kepada bisnis brokerage mungkin memang perlu dihitung lagi lebih detil, khususnya soal seberapa besar transakso harian saham gocap yang hanya bisa ditransaksikan di pasar negosiasi itu.

"Tapi, pasti ada pengaruhnya," kata Susi. Sekuritas yang memiliki bisnis broker diperbolehkan untuk mengempit sejumlah saham emiten. Ini tercatat sebagai salah satu aset mereka.

Anggaplah sebagian saham tersebut adalah saham gocapan. Lalu, batas saham gocap dibuka. Kemudian, ada saham yang harganya anjlok ke level Rp 1 atau bahkan nol. Sudah bisa ditebak, jika skenario terburuk ini terjadi, maka keuangan broker akan terganggu karena sejumlah saham yang dipegang broker menjadi tidak memiliki harga lagi.

"Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) broker langsung kena, dong. Jadi, pasti ada yang terpengaruh (jika batas saham gocap dihapus)," jelas Susi.

Sebagaimana diketahui, otoritas bursa berencana membuat golongan saham baru, penny stock, paling cepat pada semester I-2017. Penny stock berisi saham-saham dibawah harga Rp 50 yang selama ini hanya bisa dilakukan melalui pasar negosiasi. Ini merupakan teknis turunan jika harga saham gocap diapus karena saham dengan kategori tersebutmemiliki perhitungan fraksi harga yang bebeda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto