Ini rencana IAG setelah membeli Asuransi Parolamas



JAKARTA. Insurance Australia Group (IAG) buka suara tentang akuisisi PT Asuransi Parolamas. Perusahaan asal Negeri Kangguru ini mengaku, telah mengakuisisi Parolamas sejak April lalu dan mendapat izin beroperasi di Indonesia. 

Tidak banyak yang diceritakan IAG mengenai status finansial pembelian Parolamas dengan alasan terlalu dini membukanya. "Tapi kami sangat senang dengan peluang di Indonesia dan akan menjelaskan lebih detail di kesempatan mendatang," tulis Jurubicara IAG Peter Zangari dalam surel pada KONTAN, Selasa (26/5).

Sekadar gambaran, Asuransi Parolamas memiliki lini asuransi umum perorangan, yang mengkover perlindungan pada kendaraan, isi rumah, dan asuransi komersial lainnya. Sebelum diakuisisi IAG, komposisi kepemilikan saham Parolamas adalah 54,88% dimiliki Syarifuddin Harahap yang sekaligus menjabat Presiden Direktur, sebesar 44,38% milik Teuku Raffli Rahman (Direktur), dan 0,74% milik pemegang saham minoritas lainnya. 


Membeli Parolamas yang merupakan perusahaan keluarga, merupakan langkah pertama IAG memasuki pasar Indonesia. "Langkah selanjutnya adalah memfinalisasi kesepakatan untuk distribusi asuransi dengan mitra lokal, dan kami sedang memprosesnya," tulis Peter. 

Dia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai jalur distribusi tersebut. Namun, pada umumnya, selain memasarkan sendiri lewat agen, perusahaan asuransi biasanya menggandeng bank untuk pemasaran atau dikenal dengan bancassurance. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tengah menyiapkan aturan financeassurance atau pemasaran asuransi oleh lembaga pembiayaan (multifinance). 

Peter bilang, langkah akuisisi ini tidak akan berdampak signifikan pada struktur pegawai Parolamas dalam waktu menengah. Perusahaan justru berharap bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Parolamas sejalan dengan rencana IAG. 

Selama 10 tahun terakhir, Asia menjadi pasar strategis bagi perusahaan. Indonesia merupakan salah satu pasar baru yang menarik perhatian IAG.

Selain Indonesia, perusahaan mengidentifikasi negara potensial lainnya seperti China, India, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Sampai saat ini, IAG mengatakan telah mengucurkan US$ 950 juta untuk berkespansi di Asia dan berharap kawasan ini memberikan return on equity lebih dari 15% di akhir periode tahun buku 2017.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia