KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan perombakan besar terhadap struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tak terkecuali sektor asuransi. Dalam suatu acara ekonomi, COO BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan jumlah perusahaan asuransi BUMN akan dipangkas atau dikonsolidasikan dari 15 menjadi 3 entitas, yakni asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit. Mengenai hal itu, PT Asuransi Asei Indonesia memandang rencana konsolidasi BUMN sektor asuransi sebagai bagian dari agenda strategis pemerintah untuk memperkuat struktur industri melalui
streamlining, peningkatan efisiensi, dan penguatan permodalan.
Baca Juga: Konsolidasi Asuransi BUMN: Tugu Insurance Siap Koordinasi dengan Danantara Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, mengatakan secara prinsip, konsolidasi adalah instrumen kebijakan korporasi yang sah dalam rangka meningkatkan skala ekonomi atau
economies of scale, memperkuat kapasitas
underwriting dan
risk retention, mengurangi duplikasi fungsi dan biaya operasional. "Ditambah, meningkatkan daya saing global, khususnya dalam pembiayaan perdagangan dan proteksi risiko ekspor," katanya kepada Kontan, Kamis (12/2). Dody menambahkan bagi Asei sebagai perusahaan asuransi milik negara yang memiliki
core business pada asuransi perdagangan ekspor maupun domestik, aspek yang paling krusial adalah kejelasan posisi bisnis pascakonsolidasi. Dia bilang ada beberapa prinsip yang menjadi perhatian Asei, yakni konsolidasi harus tetap menjaga diferensiasi model bisnis antara asuransi kredit, asuransi umum komersial, dan fungsi
strategic trade credit. Baca Juga: Indomobil Finance (IMFI) Tawarkan Obligasi Rp 2,5 Triliun, Cek Jadwalnya Selain itu, merger harus menghasilkan entitas dengan struktur permodalan yang lebih kuat dan Risk Based Capital (RBC) yang sehat, kemudian proses integrasi harus dikelola dengan disiplin tata kelola agar tidak menimbulkan disrupsi operasional dan risiko transisi. "Selain itu, kepentingan pemegang polis, terutama UMKM dan eksportir, harus tetap menjadi prioritas. Pada prinsipnya, Asei siap mendukung kebijakan pemegang saham sepanjang desain merger memperkuat fungsi strategis perusahaan dalam mendukung pembiayaan perdagangan nasional," tuturnya. Sementara itu, Dody mengatakan potensi dampak positif dengan adanya konsolidasi tersebut pada level perusahaan adalah terjadinya penguatan ekuitas dan kapasitas
underwriting. Sebab, entitas hasil merger berpotensi memiliki kapasitas penjaminan lebih besar, meningkatkan leverage terhadap proyek-proyek strategis nasional, dan pembiayaan ekspor. Dody juga menyebut potensi dampak lainnya adalah efisiensi biaya atau
cost synergy. Artinya, konsolidasi fungsi
back office, information technology system, klaim, dan reasuransi dapat menurunkan
expense ratio dalam jangka menengah. Dia bilang akses reasuransi juga akan lebih kuat, karena dengan skala entitas yang lebih besar akan meningkatkan
bargaining power terhadap pasar reasuransi global.
Baca Juga: Danantara Bakal Lakukan Konsolidasi Asuransi BUMN, Begini Respons Jasindo Ditambah, berpotensi menimbulkan optimalisasi portofolio risiko, karena akan tercipta diversifikasi risiko yang lebih luas sehingga dapat menurunkan volatilitas klaim. Meskipun demikian, Dody menyebut terdapat potensi tantangan yang mungkin akan dialami dari adanya rencana konsolidasi. Dia menerangkan tantangannya berupa
integration risk karena perbedaan kultur organisasi, sistem IT, dan
risk appetite dapat menimbulkan risiko transisi. Selain itu, adanya tantangan dilusi mandat khusus. Sebab, jika tidak dirancang dengan tepat, fungsi khusus asuransi perdagangan dan kredit ekspor, seperti Asuransi Asei dapat, terdilusi dalam entitas
general insurance yang lebih besar. "Adanya short term disruption, yang mana dalam fase awal merger biasanya terjadi penyesuaian sumber daya manusia, sistem, dan proses bisnis yang bisa berdampak pada produktivitas," ucap Dody.
Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Asei membukukan pendapatan premi sebesar Rp 674,17 miliar per akhir 2025. Adapun aset perusahaan tercatat sebesar Rp 2,69 triliun dan ekuitas sebesar Rp 361,26 miliar per akhir 2025. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News