Ini saham terfavorit Warren Buffet



NEW YORK. Memasuki semester kedua 2013, bursa saham global masih tetap terombang-ambing. Di Amerika Serikat (AS), bursa saham kerap turun naik menanti kebijakan Federal Reserve (The Fed), tentang keberlanjutan stimulus. Di pasar Asia, sejumlah isu makro ekonomi menggoyang kepercayaan investor.

Di China, negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, perlambatan ekonomi dan krisis likuiditas perbankan menjadi momok menakutkan. Di tengah situasi yang serba tidak pasti, ada baiknya jika keputusan berinvestasi merujuk pada sang ahli. Bagai ungkapan pengalaman adalah guru terbaik, tentu jejak investasi Warren Buffett bisa menjadi guru terbaik untuk mendekap untung.

Mari lihat keputusan investasi Buffett di tahun ini. Mengutip perusahaan riset hedge funds, www.insidermonkey.com, berikut lima saham teratas pilihan Buffet di akhir kuartal satu 2013. Yakni saham Wells Fargo&Co. Disusul Coca-Cola, International Business Machines Corp (IBM), America Express Co (Amex) dan Procter&Gamble (P&G) Co.


Saham jangka panjang

Saham pendatang baru di portfolio Berkshire Hathaway, perusahaan investasi milik Buffet, yakni Chicago Bridge & Iron Company. Di kuartal satu kemarin, Buffet membeli 0,47% saham Chicago Bridge & Iron Company senilai US$ 404 juta. Ini adalah perusahaan infrastrktur energi. Di periode sama, saham yang ditendang Buffet dari portfolio yakni Archer-Daniels-Midland, perusahaan distribusi komoditas pertanian. Sementara, saham Coca-cola, Amex dan P&G sudah bertahun-tahun berada di portfolio. "Sebagai investor jangka panjang, Buffet percaya pada kekuatan merek Coca-Cola yang mendunia," tulis www.marketwatch.com.

Di posisi jawara, Buffett mengoleksi Wells Fargo karenaprospek perbankan AS. Wells Fargo yakni bank kredit perumahan terbesar AS. Berkshire mengoleksi 458,17 juta saham Wells Fargo atau setara dengan bobot 19,93% dari total portofolio Berkshire yang mencapai US$ 85 miliar. Di tahun 2011, Buffett menambah kepemilikan saham Wells Fargo sehingga bobotnya terbesar di keranjang saham Berkshire. 

Editor: Dessy Rosalina