Ini Sejumlah Sentimen yang Bakal Menggiring Rupiah hingga Akhir Tahun Nanti



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah sentimen akhir tahun bakal mempengaruhi pergerakan rupiah. Utamanya, nasib rupiah akan ditentukan oleh sikap The Fed.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana menjelaskan, rupiah kemungkinan besar masih akan tertekan di akhir tahun. Aksi The Fed yang bakal meningkatkan suku bunga masih jadi bayang-bayang pelemahan rupiah. 

Ditambah lagi, kebutuhan dolar banyak digunakan sebagai alat transaksi pembayaran di akhir tahun. Dolar digunakan menjadi alat pembayaran utang di akhir tahun yang umumnya dilakukan per jangka 3 bulan, dimana jatuh tempo pada Desember.


"Dolar juga digunakan untuk kebutuhan impor suatu negara dan penggunaannya meningkat menjelang liburan akhir tahun. Dimana, dolar banyak ditransaksikan maka mengurangi pamor rupiah," ucap Fikri kepada Kontan.co.id, Senin (24/10).

Baca Juga: Rupiah Masih Akan Melemah, Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dari faktor internal pun belum mampu mengangkat performa rupiah seperti surplusnya neraca perdagangan. Terlebih, jika data neraca perdagangan tiga bulan terakhir di tahun ini menunjukkan defisit maka semakin membuat posisi rupiah terdepresiasi.

Selain itu, bilamana aliran dana asing yang keluar atau outflow akhir tahun ini cukup besar, maka juga akan menekan rupiah.

Fikri mencermati, sebenarnya nilai wajar rupiah saat ini bisa berada di area Rp 12.000 per dolar AS. Namun ada kekhawatiran kalau rupiah terlalu kuat akan mengurangi minat investor di investasi dan sektor ekspor.

Dia memperkirakan rupiah lebih cenderung melemah dengan rentang Rp 15.200- Rp 15.800 per dolar AS di akhir tahun 2022.

Baca Juga: Hati-hati, Debt Service Ratio (DSR) Tahun 2023 Mungkin Bengkak hingga 30%

Selanjutnya, rupiah memiliki momentum jika The Fed mengerem kenaikan suku bunga di tahun depan. Dengan kondisi tersebut, rupiah relatif akan bergerak perlahan menuju area Rp 15.200- Rp 15.600 per dolar AS di semester I 2023.

Fikri bilang, hal ini sekaligus mengindikasikan investasi terhadap dolar masih sangat prospektif. Sebab, The Fed kemungkinan besar masih menaikkan suku bunga menuju akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi