Ini Strategi Adhi Karya (ADHI) Sehatkan Bisnis Setelah Rugi Membengkak pada 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatat pembengkakan kerugian pada tahun buku 2025. Rugi bersih emiten pelat merah ini melonjak 6.127% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 5,4 triliun pada 2025.

Corporate Secretary PT Adhi Karya Tbk Rozi Sparta mengatakan, dengan pencatatan penyesuaian nilai yang telah dilakukan pada 2025, ADHI memasuki tahun 2026 dengan peningkatan kualitas bisnis perusahaan secara menyeluruh. 

Untuk memperbaiki struktur keuangan ADHI, Rozi menyebut pihaknya berencana penguatan fokus pada bisnis inti melalui divestasi aset tertentu yang saat ini tengah dikaji.


Baca Juga: Insentif Jadi Penentu Akselerasi Kendaraan Listrik

“Selain itu, kami melakukan inovasi pada bisnis inti konstruksi, serta melakukan percepatan pencairan piutang khususnya proyek-proyek besar seperti LRT Jabodebek dan Jalan Tol Aceh-Sigli,” jelasnya saat dihubungi Kontan, Kamis (9/4/2026).

Sebelum merger BUMN Karya terealisasi, Rozi membeberkan, saat ini Danantara sedang melakukan review terhadap fundamental bisnis BUMN Karya termasuk ADHI. 

Hal ini di antaranya dilakukan dengan fokus ulang terhadap bisnis inti melalui penataan anak usaha dan divestasi. “Yang jika terlaksana, hal ini akan meningkatkan likuiditas dan memperkuat bisnis grup secara keseluruhan,” imbuhnya.

Mengenai kerugian besar pada tahun lalu, Rozi bilang seluruh rugi ADHI berasal dari pembukuan biaya non-operasional. Biaya non-operasional tersebut merupakan hasil dari penyesuaian nilai wajar aset perusahaan, seiring program review fundamental bisnis BUMN Karya.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Menuju US$ 100 per Barel, Bagaimana Nasib BBM Non-Subsidi?

“Hal ini berdampak dominan pada anak perusahaan properti,” imbuhnya.

Perlambatan bisnis makro properti dan penurunan daya beli masyarakat, lanjut Rozi, menyebabkan penurunan nilai realisasi bersih (net realizable value/NRV) berdasarkan penilaian (appraisal) Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), yang dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).

“Kemudian, evaluasi CKPN atas piutang anak perusahaan di bidang kontraktor gedung, yang portofolio pelanggannya sebagian besar berada di sektor properti, mengalami tekanan dan proses kepailitan,” jelasnya.

Sebagai informasi, selain tekanan di sisi bottom line, pendapatan ADHI pada 2025 juga turun 27,6% yoy menjadi Rp 9,67 triliun. Pada tahun sebelumnya, ADHI mencetak pendapatan Rp 13,35 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News