KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menerapkan beberapa strategi untuk menjaga rasio klaim asuransi kredit tetap dalam batas yang sehat. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan strateginya berupa memperkuat proses
underwriting dan
risk selection. "Sebab, seleksi terhadap portofolio kredit merupakan kunci utama. Tentu akan lebih selektif terhadap sektor usaha, profil debitur, serta kualitas lembaga pembiayaan yang menjadi mitra," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (11/3/2026). Selain itu, Dody menyebut Asei juga menerapkan
risk based pricing, agar penetapan premi mencerminkan tingkat risiko yang sebenarnya.
Dia bilang, industri asuransi juga mulai menyesuaikan tarif premi berdasarkan pengalaman klaim, tren Non Performing Loan (NPL), serta karakteristik debitur.
Baca Juga: BNI Targetkan Penjualan Sukuk Ritel SR024 Capai Rp 800 Miliar Strategi lainnya, yakni memperkuat
risk sharing dengan lembaga pembiayaan, yang mana regulasi terbaru asuransi kredit juga mendorong mekanisme pembagian risiko antara perusahaan asuransi dan pemberi kredit agar pengelolaan risiko menjadi lebih seimbang. Ditambah, melakukan monitoring portofolio secara lebih aktif untuk mendeteksi lebih dini potensi kredit bermasalah. Dengan langkah-langkah tersebut, Dody berharap rasio klaim dapat lebih terkendali dan bisnis asuransi kredit tetap berkelanjutan dalam jangka panjang. Sementara itu, Dody menjelaskan secara umum terdapat beberapa faktor utama yang dapat memengaruhi peningkatan rasio klaim pada lini asuransi kredit. Dia bilang salah satunya adalah kualitas portofolio kredit yang diasuransikan. "Jika kualitas kredit yang dijamin menurun atau terjadi peningkatan kredit bermasalah, klaim asuransi kredit cenderung meningkat," katanya. Dody menyebut kondisi ekonomi makro turut memengaruhi. Dia menerangkan perlambatan ekonomi, penurunan daya beli, atau tekanan pada sektor usaha tertentu dapat memengaruhi kemampuan debitur dalam membayar kewajibannya. Faktor lainnya, yakni praktik
underwriting yang terlalu longgar atau premi yang tidak mencerminkan risiko dapat menyebabkan rasio klaim asuransi kredit menjadi tinggi. Ditambah, adanya karakteristik produk asuransi kredit, yang mana produk tersebut mengikuti tenor kredit yang umumnya menengah hingga panjang, sehingga klaim bisa muncul beberapa tahun setelah polis diterbitkan.
Baca Juga: BCA Sesuaikan Operasional Cabang Selama Libur Nyepi dan Lebaran 2026 "Selain itu, peningkatan kredit konsumtif atau pembiayaan pada sektor berisiko tinggi juga dapat meningkatkan potensi klaim," ucap Dody. Sebagai informasi, angka rasio klaim lini asuransi kredit di industri asuransi umum terbilang masih tinggi. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, rasio klaim asuransi kredit berada di level 95,7% per akhir 2025, atau meningkat dibandingkan pencapaian per akhir 2024 yang sebesar 91,3%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News