Ini Strategi Bukit Asam (PTBA) Hadapi Potensi Kekurangan Pasokan Batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memperkuat strategi penjualan batubara melalui kontrak jangka menengah dan panjang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, termasuk ke kawasan Asia. Strategi ini menjadi kunci perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan dan mengelola risiko fluktuasi harga.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan, kontrak-kontrak ini menggunakan formula harga yang disepakati bersama, sehingga perusahaan tetap memenuhi seluruh kewajiban kontraktual sekaligus menjaga pasokan kepada mitra usaha.

"Dalam pelaksanaannya, Bukit Asam tetap memenuhi seluruh kewajiban kontraktual serta menjaga kesinambungan pasokan kepada para mitra usaha," ujarnya kepada Kontan, Kamis (5/2/2026).


Selain mengandalkan kontrak jangka panjang, PTBA juga memiliki basis pasar domestik yang kuat melalui pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO), terutama untuk mendukung kebutuhan sektor ketenagalistrikan nasional.

Baca Juga: Perbarui Eksterior, Mazda Indonesia Bidik Jual 60 New Mazda CX-60 Sport di IIMS 2026

Hal tersebut membuat struktur portofolio penjualan PTBA lebih resilien terhadap dinamika pasar spot global.

Langkah PTBA dan penambang batubara lain datang di tengah kekhawatiran pasar internasional. Sebelumnya, perusahaan utilitas di Asia dikabarkan mulai bersiap menghadapi potensi kekurangan pasokan batubara menyusul penghentian sementara ekspor batubara spot oleh beberapa penambang di Indonesia.

Aksi tersebut merupakan respons terhadap rencana pemerintah membatasi produksi batubara nasional melalui pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Menanggapi kekhawatiran risiko pemadaman listrik di negara importir akibat pemangkasan produksi, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan pemerintah telah mengantisipasi dampaknya.

“Enggak, kita sudah antisipasi. Insya Allah enggak,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menilai, pemotongan RKAB dapat meningkatkan beban biaya produksi karena volume yang ditekan membuat biaya menjadi tidak ekonomis.

“Kondisi ini mendorong penambang untuk mengamankan kontrak jangka panjang sebagai respons atas kenaikan biaya yang tidak ekonomis,” katanya.

Baca Juga: Kementerian ESDM Bantah Isu Pemangkasan RKAB Batubara 2026, Persetujuan Belum Terbit

Gita menambahkan, pasar akan merespons ketika harga sudah tidak ekonomis, mulai dari mencari pemasok alternatif hingga meningkatkan porsi kontrak jangka panjang. Penghentian pasar spot dapat bersifat sementara maupun jangka panjang, tergantung ketersediaan pasokan global.

Secara normatif, porsi ekspor spot batubara Indonesia berkisar 20%–30%, bergantung strategi masing-masing perusahaan. Negara tujuan ekspor utama Indonesia diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak.

Selanjutnya: Suzuki Tetapkan Harga e VITARA Rp755 Juta, Bidik Pasar SUV Listrik Premium

Menarik Dibaca: 4 Manfaat Konsumsi Serat bagi Kesehatan Tubuh yang Luar Biasa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News