Ini Strategi PGEO Manfaatkan Panas Bumi untuk Dorong Industri Data Center



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy TbkĀ (PGEO) melihat peluang pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung kebutuhan listrik bagi industri pusat data (data center) di Indonesia.

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani mengatakan, kebutuhan energi yang andal dan ramah lingkungan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan data center. Menurutnya, panas bumi memiliki karakteristik sebagai energi base load yang dapat menjaga keandalan sistem kelistrikan.

"Industri data center membutuhkan energi yang andal, dan geothermal andal," ujar Ahmad Yani dalam acara EBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).


Baca Juga: BYD Resmikan Pabrik di Subang, Investasi Rp 11,7 Triliun dan Kapasitas 150.000 Unit

Ahmad Yani mengatakan, panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah sumber energi terbarukan lain karena mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil. Berdasarkan paparannya, faktor kapasitas (capacity factor) panas bumi mencapai sekitar 90%, lebih tinggi dibandingkan tenaga air sekitar 48%, angin 36%, dan surya 18%.

Menurut dia, karakteristik tersebut membuat panas bumi dapat berperan dalam mendukung pengembangan energi hijau.

"Yang bisa menandingi geothermal itu hanya nuklir yang di sini mencapai 93%. Nah, inilah peran geothermal di sini, bagaimana untuk mendukungĀ keandalan jaringan apabila nanti semua green energy ini masuk ke dalam jaringan kita," katanya.

Saat ini, ia mengatakan Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 24 gigawatt (GW), tetapi pemanfaatannya masih sekitar 11%. Kondisi tersebut membuat ruang pengembangan panas bumi nasional masih terbuka luas.

Dari sisi perusahaan, PGEO disebut memiliki potensi pengembangan kapasitas hingga 3,2 GW. Adapun saat ini kapasitas terpasang PGE mencapai 727 megawatt (MW), dengan pipeline pengembangan di sejumlah wilayah. Dengan begitu, terdapat potensi sekitar 2,5 GW untuk dikembangkan.

"Pipeline kita yang sudah kita rilis di Sumatra, Jawa, Sulawesi, itu kita ada 1.175 megawatt," jelas Ahmad Yani.

Baca Juga: Keterbatasan Pagu Anggaran Jadi Tantangan Program 3 Juta Rumah pada 2027

Pipeline tersebut, lanjut dia, memiliki potensi investasi sekitar US$ 6,46 miliar.

Ahmad Yani melihat pengembangan panas bumi juga dapat mendukung kebutuhan industri hijau, termasuk green data center. Menurutnya, perusahaan saat ini mulai mengembangkan sejumlah peluang bisnis baru di luar bisnis pembangkit konvensional.

"Dan salah satunya mungkin dalam hal ini menghubungkan geothermal dengan green industry, salah satunya adalah green data center," katanya.

Upaya tersebut tercermin dalam langkah perusahaan yang tengah mengembangkan sejumlah proyek baru, termasuk pengembangan pemanfaatan panas bumi untuk kebutuhan data center.

"Kami sedang melakukan, sedang berproses, berkolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI), dengan asosiasi penyelenggara data center (IDPRO), untuk bagaimana membuat proyek ini menjadi suatu pilot project dan nantinya akan bisa menjadi peluang-peluang bisnis yang kita harapkan menjadi real business ke depan," ujarnya.

Baca Juga: Mahindra Powerol Rilis Genset Baru di Indonesia, Kapasitas hingga 1.250 kVA

Namun, Ahmad menilai percepatan pengembangan panas bumi membutuhkan dukungan dari sisi kebijakan dan keekonomian proyek.

Karena itu, kepastian skema perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA), dukungan pembiayaan, serta penciptaan permintaan dinilai krusial.

"Kami juga mengharapkan bagaimana alignment strategi dan kebijakan untuk data center ini sendiri ke depan. Ini yang kita harapkan dari pemerintah dan semua pihak yang terkait sehingga kita bisa support pertumbuhan data center di Indonesia," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News