KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) optimistis dengan target kinerja di tahun ini dapat tercapai. Walau ada tekanan kenaikan harga pakan. Asal tahu saja, WMUU menargetkan penjualan dan laba bersih dapat tumbuh rata-rata 25% di tahun 2022. Chief Executive Officer WMUU Ali Mas’adi mengatakan, perseroan tidak terdampak signifikan atas adanya kenaikan sejumlah harga pakan. Lantaran WMUU memiliki strategi dengan pemain lainnya di industri poultry (unggas) yang lebih fokus pada sektor downstream atau pemotongan unggas. “Jika teman-teman yang lain fokus di bisnis pakan, maka pasti akan terdampak. Namun kami berbeda karena berfokus di industri pengolahan untuk menghasilkan daging ayam. Perlu digarisbawahi bahwa strateginya berbeda,” ungkap Ali dalam paparan publik, Rabu (15/6).
Ali menyebutkan, hal tersebut dibuktikan dengan realisasi penjualan di tahun lalu yang mencapai Rp 3,09 triliun, yang disumbangkan paling besar dari segmen karkas yaitu mencapai 95% atau setara Rp 2,95 triliun. Sementara sisanya disumbangkan dari segmen Day Old Chick (DOC) dengan komposisi 1,99%, Broiler Commercial 1,75%, Pakan 0,41% serta segmen Telur 0,18%. Baca Juga: Kembangkan Sejumlah Fasilitas, Widodo Makmur (WMUU) Siapkan Capex Rp 1,2 Triliun Menurut Ali, harga ayam yang cenderung naik dan ada sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura yang mengalami krisis pasokan ayam potong, malah menjadi peluang bagi WMUU terutama di sektor downstream. Sebab, fasilitas yang dibangun oleh WMUU memang didesain untuk bisa dukung ekspor. Disamping itu, tidak dapat dihindari harga bahan pakan mengalami kenaikan seperti harga bahan baku unggas adalah jagung dan kedelai. Ali pun mengapresiasi pemerintah untuk ketersediaan produksi jagung dari domestik. Namun sayangnya kedelai masih dari impor. Kendati demikian, WMUU telah melakukan riset untuk mengurangi ketergantungan kedelai, misalnya dulu dibutuhkan sebanyak 25% maka mulai perlahan dikurangi menjadi 15%.
WMUU Chart by TradingView