KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. Mengenai hal itu, Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo) menyebut ada sejumlah tantangan yang dirasakan industri LKM dalam menyeimbangkan tingkat inklusi dengan literasi. Ketua Umum Aslindo, Burhan mengatakan salah satu tantangannya adalah sumber daya manusia LKM yang sangat terbatas, minimnya informasi soal LKM kepada masyarakat mengingat lokasi daerah atau desa yang cukup jauh, serta minimnya kesediaan dana untuk mendorong peningkatan inklusi keuangan bagi LKM.
Ini Tantangan Industri LKM Seimbangkan Tingkat Inklusi dengan Literasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. Mengenai hal itu, Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo) menyebut ada sejumlah tantangan yang dirasakan industri LKM dalam menyeimbangkan tingkat inklusi dengan literasi. Ketua Umum Aslindo, Burhan mengatakan salah satu tantangannya adalah sumber daya manusia LKM yang sangat terbatas, minimnya informasi soal LKM kepada masyarakat mengingat lokasi daerah atau desa yang cukup jauh, serta minimnya kesediaan dana untuk mendorong peningkatan inklusi keuangan bagi LKM.