Ini tantangan saham perbankan ke depan



JAKARTA. Di tengah positifnya prospek saham bank menengah, masih banyak tantangan yang perlu dihadapi. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) misalnya.

BNGA menghadapi resiko turunnya Net Interest Margin (NIM) atau pendapatan bunga bersih sekitar 5% tahun ini seiring dengan rencana ekspansi kredit. Perusahaan menargetkan pertumbuhan kredit .8%-10% tahun ini.

NPL juga memiliki potensi untuk kembali meningkat. "Kami juga mengkhawatirkan strategi BNGA untuk masuk dalam segmen konsumer dan SME akan menekan yield dan meningkatkan operasional expenditure (opex)," kata analis BNI Securities Richard Jerry dalam riset.


Bima Setiaji, analis NH Korindo Sekuritas Indonesia menambahkan, pengetatan likuiditas juga menjadi batasan prospek perbankan ke depannya. Bahkan, hal ini sudah mulai dirasakan di bank kecil.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI), hingga Desember 2016 perolehan dana pihak ketiga (DPK) kelompok bank BUKU I dan BUKU II cenderung stagnan, kenaikannya tipis hanya 0,58% menjadi Rp 642,77 triliun

Parahnya lagi, kemampuan bank terutama bank kecil untuk mendulang dana murah alias Current Account Savings Account (CASA) pun tergilas bank besar yang memiliki basis nasabah besar.

Hal itu terlihat dari CASA bank BUKU I dan BUKU II yang turun 3,75% menjadi Rp 263,16 triliun. "Oleh karena itu, untuk tahun ini bank kecil kami prediksi bakal berusaha mati-matian menggenjot dana murah," imbuh Bima, Senin (8/5).

Batasan juga justru datang dari karakteristik PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). Fundamental keduanya sejatinya bagus.

Namun, sahamnya kurang likuid, apalagi NISP. "PNBN juga sebenarnya murah, tapi kurang dukungan dari corporate action dan dividen," tambah Bima. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto