KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi industri modal ventura dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor hijau. Kepala Bidang Media & Hubungan Masyarakat Amvesindo Novrizal Pratama menerangkan salah satu tantangan struktural dan risiko yang harus diwaspadai industri, yakni ketidaksesuaian tenor dan biaya modal. Novrizal menjelaskan proyek hijau umumnya padat modal dan memiliki siklus balik modal yang panjang atau bisa 7 tahun hingga 10 tahun.
Baca Juga: Nilai Transaksi QRIS Tembus Rp600,7 Triliun pada Semester I-2026 "Hal itu kerap kali menantang jika disandingkan dengan siklus umur dana modal ventura pada umumnya," katanya kepada Kontan, Kamis (17/9). Novrizal menerangkan tantangan lainnya adalah keterbatasan opsi exit. Dia bilang pasar modal Indonesia belum cukup dalam untuk menyerap start-up hijau yang ingin
Initial Public Offering (IPO). Dengan demikian, jalur
exit strategy bagi investor masih sangat bergantung pada akuisisi strategis. Tantangan lain yang dihadapi industri adalah kepastian regulasi. Novrizal mengatakan investor pada umumnya membutuhkan kepastian jangka panjang terkait regulasi, kejelasan insentif yang akan diterima nantinya, serta perlindungan kelangsungan bisnis di masa yang akan datang. Novrizal mengatakan industri juga perlu mewaspadai risiko
greenwashing. Dia menyampaikan tantangan bagi modal ventura adalah memastikan start-up benar-benar memberikan dampak lingkungan yang terukur, seperti pengurangan emisi karbon, bukan sekadar menunggangi narasi Environmental, Social, and Governance (ESG). "Tentu perlu menuntut kapasitas
due diligence teknis yang lebih ketat," ucapnya. Sementara itu, Novrizal melihat daya tarik dan prospek sektor hijau bagi modal ventura di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Dia bilang hal itu terbukti dari tren positif makin banyaknya
fund atau perusahaan modal ventura yang mulai membangun tesis investasi khusus di bidang
climate-tech dan
sustainability. Baca Juga: OJK Cabut Izin Usaha BPR Pasarraya Kuta, LPS Lakukan Likuidasi Secara praktik, Novrizal menerangkan penyaluran pembiayaan ke sektor hijau sudah mulai berjalan saat ini. Namun, dia bilang pembiayaan untuk tahap paling awal (
pre-seed dan
seed) masih perlu didorong, misalnya melalui skema blended finance bersama lembaga pembangunan internasional. Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyebut sektor hijau dapat menjadi salah satu ruang pengembangan bagi industri modal ventura.
Agusman menerangkan penyaluran pembiayaan yang diklasifikasikan dalam Kategori Usaha Keuangan Berkelanjutan atau KUKB di industri modal ventura mencapai Rp 15,37 triliun per Juli 2026. "Nilainya memakan porsi sebesar sebesar 90,44% dari total penyertaan atau pembiayaan industri modal ventura," ujarnya dalam konferensi pers RDK OJK, Senin (7/9/2026). Adapun nilai pembiayaan modal ventura tercatat sebesar Rp 16,32 triliun per Juli 2026, atau mengalami kontraksi sebesar 0,46% secara
Year on Year (YoY). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News