KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (
ENRG) memasuki fase baru setelah menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau
rights issue. Pasalnya, aksi korporasi nakal mengubah valuasi per saham ENRG Seperti diketahui, ENRG menawarkan maksimal 13,28 miliar saham baru Seri B dengan harga pelaksanaan Rp 310 per saham. Dengan rasio 2:1, aksi korporasi tersebut berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp 4,12 triliun. Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas Abida M. Armand mengatakan, sebelum memperhitungkan dampak
rights issue, pihaknya menghitung nilai wajar ENRG pada kisaran Rp 1.500–Rp 1.700 per saham. “Dari hasil kalkulasi kami,
value dari Energi Mega Persada itu berada di kisaran Rp 1.500-Rp 1.700, dengan angka tepatnya Rp1.650 menggunakan perhitungan
discounted cash flow,” jelasnya, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Bitcoin Masih Tertekan, Investor Disarankan Tak Reaktif Hadapi Volatilitas Namun, Abida menegaskan perhitungan tersebut dibuat sebelum
rights issue. Setelah aksi korporasi, jumlah saham ENRG diperkirakan bertambah dari sekitar 26 miliar menjadi 39,8 miliar saham. Kondisi tersebut membuat target harga berdasarkan kalkulasi BRI Danareksa Sekuritas disesuaikan menjadi sekitar Rp 1.200 per saham. Abida bilang penyesuaian terjadi karena perubahan harga teoritis dan bertambahnya jumlah saham setelah aksi korporasi. “Fair value-nya bukan turun, tetapi ini dikarenakan adanya harga teoritis yang baru karena ada penambahan jumlah saham yang baru,” kata Abida. Meski target harga mengalami penyesuaian, Abida masih melihat potensi penguatan saham ENRG sekitar 20% dibandingkan harga pasar berdasarkan perhitungan valuasi setelah memperhitungkan struktur saham terbaru.
Abida menyebut kepastian penyerapan rights issue relatif tinggi karena terdapat pembeli siaga. PT Bakrie Kalila Investment disebut siap membeli hingga sekitar 10,5 miliar saham apabila pemegang saham lainnya tidak menyerap HMETD. Di luar
rights issue, kata Abida, pergerakan harga minyak juga menjadi sentimen yang perlu dicermati investor. Meski produksi didominasi gas, ENRG tetap memiliki eksposur terhadap produksi minyak sehingga perubahan harga komoditas dapat mempengaruhi kinerja. Abida menyebut harga jual rata-rata minyak ENRG berada sekitar US$87 per barel, lebih tinggi dari proyeksi awal tahun. BRI Danareksa juga melakukan analisis sensitivitas terhadap harga minyak terhadap kinerja EBITDA ENRG.
Baca Juga: Siapkan Akuisisi Baru, Energi Mega (ENRG) Bidik Aset Migas Produktif “Setiap peningkatan US$ 5 per barrel akan menambah 4% ke EBITDA menurut analisis kami, tetapi risiko yang perlu dicermati adalah harga oil sangat sensitif dan cukup
volatile,” ucapnya.
Pada perdagangan Kamis (13/8), ENRG parkir di level Rp 1.265 per saham atau melemah 4,17% secara harian. Namun dalam sebulan terakhir saham emiten migas Grup Bakrie ini masih menguat 5,42%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News