Ini Warisan Jerome Powell Selama Menjabat Ketua The Fed



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jerome Powell, dikenal tidak hanya karena kebijakan moneter agresif selama masa jabatannya sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) Federal Reserve, tetapi juga karena pendekatannya dalam membangun hubungan dengan Kongres Amerika Serikat.

Selama delapan tahun kepemimpinannya yang penuh dinamika, Powell menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari krisis pandemi COVID-19 hingga lonjakan inflasi tertinggi dalam beberapa dekade.

Dalam periode tersebut, The Fed memangkas suku bunga mendekati nol serta melakukan pembelian obligasi dalam skala besar untuk menopang perekonomian. Namun, setelah itu, bank sentral juga menaikkan suku bunga secara agresif guna menekan inflasi yang melonjak pascapandemi.


Selain kebijakan moneter yang ekstrem, Powell juga tercatat dua kali mengubah kerangka kebijakan The Fed serta meningkatkan intensitas komunikasi publik terkait arah kebijakan bank sentral.

Baca Juga: Samsung Electronics Tawarkan Negosiasi Tanpa Syarat ke Serikat

Namun, seiring berakhirnya masa jabatannya, salah satu aspek yang dinilai paling menonjol dari kepemimpinan Powell adalah upayanya memperkuat hubungan dengan anggota parlemen di Capitol Hill. Pendekatan ini dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga independensi The Fed di tengah tekanan politik.

Sebagai figur dengan latar belakang hukum, pengalaman di sektor investasi, serta pernah bekerja di Departemen Keuangan AS, Powell dianggap lebih adaptif dalam membangun relasi politik dibandingkan pendahulunya seperti Janet Yellen dan Ben Bernanke yang berlatar belakang akademisi.

Penelitian yang dilakukan oleh Thomas Drechsel dari University of Maryland menunjukkan bahwa Powell lebih sering melakukan pertemuan dengan anggota Kongres dari kedua partai dibandingkan pendahulunya. Intensitas pertemuan tersebut juga meningkat selama masa pemerintahan Donald Trump, ketika tekanan politik terhadap The Fed meningkat.

Pendekatan ini dinilai bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari strategi menjaga dukungan politik terhadap independensi bank sentral, terutama dalam menghadapi potensi intervensi dari Gedung Putih.

Meski demikian, pendekatan Powell tidak lepas dari kritik. Senator Partai Republik asal Ohio, Bernie Moreno, menyebut Powell sebagai sosok yang terlalu politis dan menilai pendekatannya berdampak negatif terhadap institusi The Fed.

Baca Juga: Bos Besar Perusahaan AS Pulang dari China Tanpa Banyak Kesepakatan Bisnis Baru

Di sisi lain, data menunjukkan Powell beberapa kali melakukan pertemuan intensif dengan anggota Senat dari kedua partai, termasuk Senator Thom Tillis dari North Carolina. Bahkan, keterlibatan Tillis disebut berperan dalam dinamika politik terkait proses pencalonan pejabat The Fed di tengah tekanan investigasi terhadap Powell.

Menurut Drechsel, pola interaksi tersebut menunjukkan bahwa Powell secara sistematis membangun komunikasi dengan legislatif.

“Mungkin itu alami mengingat latar belakang Powell. Bernanke dan Yellen akademisi... Tetapi dalam lingkungan politik seperti ini, interaksi yang tinggi menjadi hal yang penting. Salah satu interpretasinya adalah Powell secara aktif bekerja dengan Kongres untuk melindungi The Fed,” ujarnya.

Kepemimpinan Powell pun dinilai meninggalkan warisan yang kompleks: kombinasi kebijakan moneter ekstrem, komunikasi yang lebih terbuka, serta pendekatan politik yang lebih aktif dalam menjaga posisi bank sentral di tengah tekanan domestik.