KONTAN.CO.ID - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan. Indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok ke level terendah dalam satu tahun, sementara nilai tukar rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang masa. Tekanan terjadi setelah penyedia indeks global MSCI menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dalam hasil tinjauan kuartalan
(quarterly review). Mengacu laporan
Reuters, saham-saham di Jakarta turun hingga 1,7% dan menyentuh posisi terendah sejak akhir April 2025. Pada saat yang sama, rupiah melemah ke rekor terendah sepanjang masa di level Rp 17.535 per dolar AS.
Manajer investasi SGMC Capital di Singapura, Mohit Mirpuri, menilai reaksi pasar cenderung negatif karena investor mengantisipasi keluarnya dana pasif
(passive outflows). “Reaksi hari ini kemungkinan negatif mengingat arus keluar pasif yang diperkirakan terjadi serta turunnya bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets (EM) setelah rebalancing,” ujarnya. Namun demikian, Mirpuri menilai koreksi ini juga dapat menjadi momen “pembersihan sentimen” di pasar. Ia menyebut, ketidakpastian terkait rebalancing MSCI telah membayangi pasar selama berbulan-bulan. Setelah keputusan ini keluar, investor berpotensi kembali fokus pada faktor fundamental seperti kinerja laba dan valuasi saham.
Baca Juga: Tengok Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Rabu (13/5) Merosot Rp 20.000 Per Gram “MSCI overhang telah mendominasi sentimen selama berbulan-bulan, dan dengan ketidakpastian yang kini sebagian besar terjawab, investor bisa secara bertahap kembali fokus pada fundamental, realisasi laba, dan valuasi,” tambahnya. Dalam penyesuaian indeks tersebut, MSCI menghapus enam emiten Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni:
- Amman Mineral International
- Chandra Asri Pacific
- Dian Swastatika Sentosa
- Barito Renewables Energy
- Petrindo Jaya Kreasi
- Sumber Alfaria Trijaya
Setelah pengumuman tersebut, keenam saham itu kompak merosot dengan penurunan di kisaran 5% hingga 13%. Saham utilitas berkapitalisasi besar Barito Renewables Energy bahkan menyentuh posisi terendah dalam lebih dari dua tahun, sedangkan saham kimia Chandra Asri Pacific jatuh ke level terlemah dalam lima pekan terakhir. Di sisi lain, pelemahan rupiah juga sejalan dengan tekanan yang dialami aset-aset emerging market Asia. Berdasarkan data pada pukul 02.25 GMT atau 09.25 WIB, rupiah melemah 0,23% secara harian dan tercatat sudah turun 4,91% sepanjang tahun berjalan.
Tonton: Kenaikan Royalti Mineral Ditunda, Pemerintah Cari Skema Baru Sementara itu, indeks saham Indonesia turun 1,67% pada hari tersebut dan sudah merosot hingga 22% secara year-to-date (YTD), menjadi salah satu yang terburuk di kawasan. Dampak Rebalancing MSCI ke Pasar Indonesia
| Indikator | Pergerakan |
| IHSG (harian) | turun hingga 1,7% |
| Level IHSG | terendah sejak akhir April 2025 |
| Rupiah | melemah ke rekor Rp 17.535/US$ |
| Saham-saham yang dihapus MSCI | anjlok 5% - 13% |
| Risiko utama | passive outflows |
| Sentimen investor | negatif jangka pendek, bisa pulih setelah ketidakpastian hilang |
Apa Itu MSCI Index?
MSCI Inc. adalah perusahaan penyedia indeks pasar saham global yang berbasis di Amerika Serikat. MSCI awalnya merupakan singkatan dari Morgan Stanley Capital International. MSCI menyusun berbagai indeks saham dari banyak negara untuk menjadi tolok ukur investasi global. Indeks ini membantu investor melihat kinerja pasar saham berdasarkan wilayah, negara, sektor, hingga ukuran kapitalisasi perusahaan. Beberapa indeks MSCI yang paling dikenal antara lain:
- MSCI Global Standard Index
- MSCI Global Small Cap Index
Investor global banyak menggunakan indeks tersebut sebagai benchmark atau acuan dalam mengelola portofolio investasi.
Fungsi MSCI Index
MSCI Index memiliki beberapa fungsi utama dalam pasar modal global, yaitu: 1. Acuan Investasi Global Banyak reksa dana dan ETF internasional mengikuti komposisi MSCI. Jika suatu saham masuk indeks MSCI, maka dana investasi yang mengikuti indeks tersebut biasanya akan membeli saham terkait. 2. Mengukur Kinerja Pasar Investor menggunakan MSCI untuk membandingkan performa pasar saham suatu negara dengan negara lain. 3. Menentukan Alokasi Dana Asing Negara dengan bobot besar di MSCI biasanya berpotensi menerima aliran modal asing lebih besar. 4. Meningkatkan Visibilitas Emiten Saham yang masuk MSCI dianggap memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yang baik sehingga lebih mudah dilirik investor global. Jenis-Jenis MSCI Index 1. MSCI World Index Indeks ini berisi saham-saham perusahaan besar dan menengah dari negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Jerman. 2. MSCI Emerging Markets Index Indeks ini mencakup negara berkembang seperti Indonesia, India, Brasil, China, dan lainnya. Indonesia termasuk dalam kategori emerging market. 3. MSCI Frontier Markets Index
Berisi negara-negara dengan pasar modal yang masih berkembang dan likuiditas relatif lebih kecil dibanding emerging market. 4. MSCI Indonesia Index Indeks khusus yang berisi saham-saham unggulan di Bursa Efek Indonesia berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar dan likuiditas transaksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News