Inilah 4 gejala diabetes tahap awal yang sering diabaikan



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Penyakit diabetes adalah penyakit yang banyak menyerang orang Indonesia. Sering disebut sebagai ibunya penyakit, setiap orang harusnya waspada dan melakukan deteksi dini gejala penyakit diabetes agar bisa diobati.

Sebuah laporan memprediksi pada 2030 mendatang, jumlah penderita diabetes bisa mencapai lebih dari 21 juta jiwa. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian bersama.

Pasalnya, selain berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manuaia, penyakit diabetes juga dapat menyebabkan tingginya beban biaya kesehatan masyarakat setiap tahunnya. Mengenal dan mewaspadai beragam gejala awal diabetes bisa menjadi salah upaya pencegahan atau penanggulangan sejak dini penyakit kronis ini.

Gejala awal diabetes


Gejala diabetes pada orang dewasa biasanya akan timbul secara bertahap, yakni bisa memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Oleh sebab itu, penyakit diabetes sering kali tak disadari atau terabaikan.

Baca juga: Bisa pilih, lelang rumah sitaan Bank Mandiri harga mulai Rp 155 juta

Ketika pasien datang ke dokter, penyakitnya ternyata sudah kronis. Maka dari itu, deteksi dini penyakit diabetes penting dilakukan, karena jika sampai diabaikan dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut, termasuk kelainan jantung, ginjal, dan stroke.

Melansir WebMD, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2 memiliki beberapa tanda peringatan yang sama. Berikut ini adalah beberapa gejala diabetes pada tahap awal yang perlu diwaspadai:

1. Rasa lapar dan kelelahan berlebih

Gejala diabetes pada tahap awal yang pertama adalah rasa lapar dan kelelahan berlebih. Tubuh Anda mengubah makanan yang Anda makan menjadi glukosa yang digunakan sel untuk energi. Tapi sel Anda membutuhkan insulin untuk mengambil glukosa.

Jika tubuh Anda tidak menghasilkan cukup insulin atau jika sel Anda menolak insulin yang dibuat tubuh, glukosa tidak dapat masuk ke dalamnya dan Anda tidak memiliki energi. Kondisi ini bisa membuat Anda lebih lapar dan lebih lelah dari biasanya.

Editor: Adi Wikanto