Inilah Daftar Skandal Korupsi Terbesar Di Dunia, Apakah Indonesia Masuk?



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Vietnam diguncang dengan kasus skandal korupsi terbesar di dunia. Selain Vietnam, berikut daftar 5 negara dengan skandal korupsi terbesar yang pernah terjadi.

Untungnya, meski kasus korupsi di Indonesia marak terjadi, tapi tidak masuk daftar skandal korupsi terbesar di dunia.

Kasus korupsi dengan tuduhan penggelapan dana itu melibatkan pengusaha properti ternama, Truong My Lan. Dilansir dari SCMP, Truong My Lan diduga menggelapkan dana Saigon Commercial Bank (SCB) sebesar 304 triliun dong Vietnam atau sekitar 12,4 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 194,5 triliun.


Jumlah tersebut hampir setara dengan total aset satu skala bank menengah di Tanah Air. Pihak kepolisian telah menangkap Truong pada 8 Oktober 2022.

Skandal korupsi terbesar di dunia

Dugaan skandal korupsi di Vietnam melampaui skandal korupsi yang pernah terjadi di Malaysia pada 2010. Dikutip dari TBS News, dalam 25 tahun terakhir skandal korupsi besar mengguncang beberapa negara. Kasus tersebut mengundang kecaman publik secara luas, menggulingkan pemerintahan, dan berakhir menjebloskan banyak orang ke penjara.

Berikut kasus korupsi terbesar di dunia:

1. Skandal korupsi di Jerman

Pada 2009, skandal korupsi yang melibatkan salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, Siemens, menggemparkan publik. Direktur di Security Exchange Commission Linda Thomsen mengungkap, pola penyuapan di perusahaan tersebut senilai 1,4 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 21,6 triliun.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan jangkauan geografis. Korupsi ini melibatkan lebih dari 1,4 miliar dollar Amerika Serikat dalam bentuk suap kepada pejabat pemerintah di Asia, Afrika, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika," tuturnya.

2. Skandal korupsi di Nigeria

Skandal korupsi yang melibatkan perwira militer Sani Abacha terjadi di Nigeria. Kasus tersebut bahkan menguras habis aset-aset negara tersebut. Sani Abacha tidak lain adalah Presiden Nigeria pada 1993-1998.

Pemerintahannya selama 5 tahun diselimuti oleh tuduhan korupsi, meskipun praktik korupsi tersebut baru disorot setelah kematiannya. Ia terbukti mengambil uang publik senilai 3-5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 46 triliun-Rp 77 triliun.

Pada 2014, Departemen Kehakiman AS mengungkapkan bahwa mereka membekukan lebih dari 458 juta dollar AS dana ilegal yang disembunyikan Abacha dan para konspiratornya di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, Nigeria berjuang untuk mendapatkan kembali uang negara yang dicuri itu. Namun, perusahaan-perusahaan yang terkait dengan keluarga Abacha telah mengajukan gugatan ke pengadilan untuk mencegah pemulangan uang tersebut.

3. Skandal korupsi di Peru

Skandal korupsi yang melibatkan seorang mantan presiden juga terjadi di Peru. Alberto Fujimori, Presiden Peru yang menjabat sejak 1990-2000 menggunakan lebih dari 75 persen anggaran Badan Intelijen Nasional yang tidak diawasi untuk menyuap para politisi, hakim, dan media.

Dia diduga menggelapkan dana publik sebesar 600 juta dollar AS atau sekitar Rp 9 triliun. Setelah melarikan diri ke Jepang pada 2000, Fujimori menjadi kepala negara terpilih pertama yang diekstradisi ke negara asalnya, diadili dan dihukum karena pelanggaran hak asasi manusia selama 30 tahun penjara.

4. Skandal korupsi di Rusia

Di Chechnya, Rusia, setiap orang yang mendapat upah akan membayar pajak tidak resmi ke sebuah dana yang dikendalikan oleh kepala republik, Ramzan Kadyrov. Meskipun dana tersebut membantu pembangunan rumah dan masjid serta digunakan untuk bantuan internasional ke Somalia, dana tersebut juga diduga digunakan untuk menggelar pesta ulang tahun ke-35 Kadyrov.

Dia juga diduga menggunakan dana itu untuk mengadakan sesi tinju senilai 2 juta dollar AS bersama Mike Tyson dan membagikan 16 sepeda motor kepada sebuah geng motor nasionalis.

5. Skandal korupsi di Panama

Mantan Presiden Panama Ricardo Martinelli pernah menghadapi dakwaan di mana dirinya diduga melakukan pelanggaran undang-undang privasi, penggelapan, penyalahgunaan wewenang, dan pergaulan terlarang pada 2018. Selama menjabat, Martinelli diduga mencurangi tender untuk kontrak-kontrak publik, termasuk tender untuk makanan dan tas sekolah, di bawah skema kesejahteraan sosial terbesar di Panama.

Dia juga dituduh menggunakan dana publik untuk memantau panggilan telepon lebih dari 150 orang, termasuk politisi dan wartawan. Martinelli menepis semua tuduhan dan dakwaan yang ditujukan kepadanya sebagai "balas dendam politik".

Dengan persidangannya yang saat ini sedang berlangsung di Panama, ia dilarang mengikuti pemilihan presiden 2019. Namun, dia berjanji akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan 2024.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tak Hanya di Vietnam, Ini 5 Skandal Korupsi Terbesar di Dunia".

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto