Inilah pahlawan corona dari Sulawesi Selatan



KONTAN.CO.ID - Makassar. Di tengah pandemi virus corona, dokter dan perawat serta para relawan berada di garis terdepan berjuang melawan COVID-19. Tak salah kiranya, jika dokter, perawat dan relawan mendapat julukan sebagai pahlawan corona. Salah satu pahlawan corona adalah dokter Sugih Wibowo.

Sugih Wibowo adalah satu-satunya dokter yang merawat 190 positif virus corona yang tergabung dalam program duta wisata Covid-19 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Harper, Makassar. Sejak 25 Mei 2020, pria yang sebelumnya bekerja di Puskesmas Maros ini rela meninggalkan istri dan anaknya yang berusia tiga bulan demi tugas dan tanggung jawab kemanusiaan menyembuhkan pasien positif virus corona.

Baca juga: Terbukti, eksploitasi mahasiswa asing di Australia dan dilecehkan secara seksual


Tugas Sugih sebagai garda terdepan dalam menyembuhkan pasien Covid-19 dijalankannya dengan sikap profesionalisme tinggi. Meski sadar resiko terpapar dan kelelahan mengintai, tapi hal itu tak menyurutkan Sugih bersama tiga perawat untuk merawat pasien Covid-19 tiap harinya.

Namun, dia tidak menyangka bakal menjadi satu-satunya dokter di Hotel Harper yang merawat 190 pasien. Berbeda dengan hotel-hotel lain yang menjadi tempat program wisata Covid-19 lainnya yang diisi beberapa dokter. "Di sini saya hanya sendirian dokter dan ditemani tiga orang perawat tangani 190 pasien. Kita bagi shift, digilir, dan tetap saling backup," kata Sugih saat diwawancara sejumlah wartawan, Kamis (2/7/2020).

"Ini jelas tidak sebanding. Jumlah pasien di sini dengan kami. Selama 24 jam full saya standby terus. Saya memang mengajukan diri, tapi tidak berpikir kalau sampai sendiri begini," tambah Sugih.

Selama menangani pasien Covid-19, Sugih mengaku menemui pasien dengan keluh kesahnya sendiri. Meski umumnya menangani pasien Covid-19 yang berstatus orang tanpa gejala (OTG), tetapi kebanyakan pasien merasa tidak nyaman.

Dia mengatakan ada pasien yang mengalami stres saat dikarantina hingga mengalami keguguran. Ada juga pasien yang ingin bunuh diri. "Semua itu harus dan mau tidak mau saya langsung tangani," ucap Sugih.

Editor: Adi Wikanto