Inovasi Ekonomi dan Pemberdayaan Holistik Bawa Nasabah PNM Naik Kelas
Jumat, 23 Januari 2026 09:00 WIB
Oleh: Nur Cholis | Editor: Indah Sulistyorini
KONTAN.CO.ID - Permodalan Nasional Madani (PNM) pada 2018, ibu rumah tangga di Garut ini semakin kreatif mengelola bisnis. Ibu Mawang menyulap umbi singkong menjadi emping bernilai ekonomi tinggi. Bahkan, kini ia bisa menggaet 25 ibu lain serta melibatkan 10 petani lokal sebagai mitra pemasok bahan baku. Program ini menjelma menjadi ekosistem usaha ultra mikro yang saling menopang dari petani ke pengolah dan dari pengolah ke pasar. “PNM tidak hanya membantu permodalan, tapi juga memberikan pelatihan serta kesempatan mengikuti pameran. Alhamdulillah, dari situ saya bisa membawa ibu-ibu lain untuk menjadi nasabah PNM Mekaar,” ujar salah satu nasabah, Ibu Wawang, penuh syukur.
Langkah serupa juga dirasakan oleh jutaan perempuan di seluruh Indonesia. Program PNM Mekaar digagas sejak tahun 2015, dan saat ini PNM menciptakan ruang bagi 16,1 juta nasabah aktif, yang seluruhnya adalah perempuan subsisten, untuk membangun usaha mandiri melalui pembiayaan ultra mikro tanpa agunan secara berkelompok yang dilengkapi dengan pendampingan usaha.
Menurut Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, keberhasilan nasabah seperti Ibu Wawang adalah cerminan pendekatan pemberdayaan yang holistik. “Kami percaya, ketika seorang ibu diberdayakan, ia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga membawa perubahan bagi keluarga dan lingkungannya. Kisah seperti ini yang terus memotivasi PNM untuk terus hadir memberikan dampak nyata bagi masyarakat khususnya perempuan prasejahtera.” Di seluruh Indonesia, Dodot berkomitmen PNM terus memperkuat ekonomi akar rumput dengan menggabungkan modal, pendampingan, dan semangat kebersamaan. Setiap ibu yang mulai mencatat arus kas, membangun koneksi sesama UMKM, atau memperluas pasar lewat digital, ikut ambil peran dalam membangkitkan ekonomi kerakyatan. Peran account officer (AO) pun tidak bisa dianggap sebelah mata. Mereka menjadi kepanjangan tangan PNM dalam menyosialisasikan program, mulai dari pelatihan dan inovasi layanan. Peran para AO juga semakin penting karena mayoritasnya adalah lulusan SMA dan SMK yang dipersiapkan menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing, disamping mereka membutuhkan pekerjaan. Para generasi muda ini tidak hanya mendapat kesempatan kerja, tetapi juga menjadi tulang punggung pendampingan usaha yang dirintis dari kecil di pelosok negeri, bahkan mendampingi ibu-ibu nasabah dari satu pertemuan kelompok ke pertemuan berikutnya. Pendampingan yang diberikan PNM meliputi literasi keuangan, pelatihan usaha, hingga strategi pemasaran digital yang kini semakin penting agar produk usaha ibu-ibu Mekaar mampu mencapai pasar lebih luas. Setiap pertemuan mingguan bukan sekadar bayar angsuran, tetapi juga ruang belajar yang mendorong nasabah untuk terus berkembang. Tidak hanya bekerja, para AO juga diberi kesempatan untuk mengikuti program beasiswa kuliah sarjana yang disediakan oleh PNM. Tujuannya agar mereka selalu menambah wawasan yang bermanfaat bagi perusahaan dan masyarakat. Strategi ini memberikan efek positif jangka panjang karena memberi pekerjaan dan penyaluran ide kreatif dari generasi muda. Melalui jaringan AO yang tersebar di berbagai daerah, PNM menjaga program keberlanjutan ekonomi yang bertumpu pada kolaborasi komunitas. "Ini menjadi bukti bahwa para AO PNM adalah roda pemberdaya, setidaknya di kalangan masyarakat prasejahtera Indonesia," tambah Dodot.
Dengan tersebarnya para AO, PNM saat ini telah memberdayakan 22,7 juta nasabah di seluruh Indonesia. Angka tersebut menandakan, pengusaha ultra mikro bukan hanya membutuhkan modal finansial tetapi juga intelektual dan sosial.