JAKARTA. Carmelita Hartoto, Ketua Indonesian National Shipowners Association (INSA) menyatakan berat untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,2% tahun ini. Menilik kondisi saat ini yang terhitung lesu khususnya sektor transportasi laut. "Agak berat rasanya mengejar kuartal 3 dan 4 untuk menaikkan pertumbuhan ke 5,2%," ujar Carmelita ketika dihubungi KONTAN pada Senin (7/8). Menurutnya, dari segi pelayaran hingga kini masih menunggu tender dari pemerintah. Tidak banyak kerja yang dilakukan karena menunggu proyek dari BUMN.
Menurut Carmelita, lesunya transportasi laut selama ini disebabkan kurangnya komunikasi antara stakeholder di pemerintahan dengan pihak pelayaran dan perkapalan. Ia mengaku, mengetahui kebutuhan pemerintah akan kapal ketika diobrolkan di media. "Waktu itu pemerintah, ESDM, atau BUMN dan pabrik semen misalnya membutuhkan kapal atau sesuatu, tapi tiba-tiba yang hadir dari kapal asing Turki. Kita tentu tidak tahu kebutuhan pemerintah kalau tidak diberitahu," jelas Carmelita. Selain masalah tender, beberapa kebijakan pemerintah dianggap masih tidak pro perkapalan, misalnya tarikan pajak. Hal ini membuat industri transportasi laut belum dapat membantu banyak pada pertumbuhan ekonomi. "Untuk BBM misalnya, kalau di negara lain bbm tidak ditarik untuk domestik dan transportasi baik laut maupun udara. Tapi di Indonesia, hal kecil seperti itu tetap ditarik ke kita," ujarnya. Menurut Carmelita pula, dari suku bunga bank, Indonesia masih terhitung tinggi yang kini sebesar 11-12% karena di luar negeri tidak sebesar itu, yakni sebesar 1-2%.