Insentif Berakhir, Penjualan Kendaraan Listrik Berpotensi Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia berpotensi melambat jika pemerintah tidak segera menghadirkan skema insentif baru setelah berbagai stimulus fiskal berakhir pada akhir 2025.

Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan pengganti untuk menjaga momentum pertumbuhan EV sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.

“Tanpa kepastian insentif, percepatan adopsi kendaraan rendah emisi bisa kehilangan daya dorong,” ujar Bebin, Kamis (15/1/2026).


Menurutnya, saat ini terjadi kekosongan regulasi menyusul berakhirnya pembebasan bea masuk mobil listrik impor utuh (CBU) serta dihentikannya skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10%.

Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Berakhir di Tahun Ini, Gaikindo Prediksi Harga Jual Bisa Naik

Padahal, intervensi pajak sebelumnya terbukti efektif mendorong minat konsumen. Bebin menjelaskan, pasar sempat tertahan akibat harga baterai yang menyumbang hingga 40% dari total harga kendaraan, ditambah kekhawatiran soal usia pakai baterai.

“Begitu insentif diberikan, situasinya berubah. Teknologi baterai makin maju, harga lebih terjangkau, desain dan fitur juga semakin menarik, sehingga penjualan EV meningkat signifikan,” katanya.

Bebin memperkirakan harga kendaraan listrik akan kembali naik seiring hilangnya dukungan fiskal, yang berisiko membuat konsumen menunda pembelian.

“Dalam kondisi tidak pasti, konsumen cenderung menunggu apakah EV masih menarik dari sisi harga dan manfaat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kendaraan rendah emisi, mengingat sektor transportasi masih menjadi penyumbang utama emisi karbon. Kondisi ini diperparah oleh kualitas BBM nasional yang tertinggal dibanding negara Asia Tenggara lainnya.

Baca Juga: Mobil Listrik Semakin Laris, Cek Harga BYD Atto 3 & Chery Omoda yang Turun Harga

Saat ini, dari produk Pertamina, hanya Pertamax Turbo dan Pertamina Dex yang memenuhi standar Euro 4 dengan kadar sulfur di bawah 50 ppm. Namun, serapan BBM ramah lingkungan tersebut masih kalah dibandingkan BBM murah dengan sulfur tinggi.

“Kalau pemerintah serius mengejar NZE, harus ada kebijakan baru sebagai pengganti insentif lama, termasuk membuka ruang lebih besar bagi kendaraan hybrid yang terbukti lebih hemat BBM dan menekan emisi,” tegas Bebin.

Sepanjang 2025, penjualan mobil listrik di Indonesia masih mencatat pertumbuhan. Data wholesales menunjukkan distribusi pabrik ke dealer mencapai 82.525 unit selama Januari–November 2025, dari total penjualan kendaraan nasional 710.084 unit.

Baca Juga: Mobil Listrik Semakin Laris, Cek Harga BYD Atto 3 & Chery Omoda yang Turun Harga

Dengan capaian tersebut, pangsa pasar mobil listrik mencapai 11,62%.

Namun, tren bulanan menunjukkan pelemahan. Pada Oktober 2025, distribusi tercatat 13.862 unit, lalu turun menjadi 13.390 unit pada November 2025.

Sumber: https://www.tribunnews.com/otomotif/7779028/tanpa-dukungan-insentif-pasar-kendaraan-listrik-diprediksi-tak-bertumbuh?page=all&s=paging_new.

Selanjutnya: 6 Film dan Serial Netflix Global 2026, Ini Sinopsis & Jadwal Tayangnya

Menarik Dibaca: Hasil India Open 2026, 2 Pemain Tunggal Indonesia Tembus Perempat Final

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News