Insentif Kendaraan Listrik Dilanjutkan, Pasar EV Dinilai Bakal Makin Ngebut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah melanjutkan insentif kendaraan listrik mendapat respons positif dari pelaku industri. Meski dinilai belum otomatis mengerek penjualan, insentif tetap dipandang sebagai salah satu stimulus penting untuk memperkuat pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia.

Sales & Channel Development Director Geely Auto Indonesia Constantinus Herlijoso mengatakan, dampak insentif terhadap penjualan EV akan bergantung pada kondisi pasar. Saat ini, sejumlah agen pemegang merek (APM) telah memberikan subsidi khusus untuk mengantisipasi insentif pajak pertambahan nilai (PPN) yang sebelumnya dijanjikan pemerintah.

Namun, kebijakan insentif tersebut belum terbit. Di tengah kondisi pasar yang masih menantang, pelaku industri juga tidak mudah melakukan penyesuaian harga.


Baca Juga: HERO Fokus Ekspansi Guardian, Siapkan Strategi Licensing dan Franchise

"Hal ini yang mungkin akan menyebabkan kenaikan penjualan tidak akan terlalu terlihat dampaknya," ujar Constantinus kepada Kontan, Senin (17/8/2026).

Meski begitu, Constantinus melihat pasar EV masih memiliki ruang pertumbuhan. Bahkan, potensi pertumbuhan pasar kendaraan listrik dinilai bisa lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya ketika insentif diberikan.

Optimisme tersebut ditopang oleh pilihan model kendaraan listrik yang semakin beragam serta perkembangan teknologi yang terus meningkat. Menurut dia, pertimbangan konsumen terhadap EV juga mulai bergeser. Konsumen tidak lagi hanya melihat harga pembelian awal, tetapi turut mempertimbangkan teknologi, kenyamanan, efisiensi, dan total biaya kepemilikan.

Dari sisi segmen, mobil listrik maupun motor listrik sama-sama berpeluang menikmati dampak insentif. Untuk mobil listrik, insentif dapat meningkatkan daya tarik bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan untuk mobilitas sehari-hari maupun kebutuhan keluarga.

Namun, harga bukan satu-satunya pertimbangan konsumen. Faktor teknologi, fitur keselamatan, jarak tempuh, ketersediaan unit, hingga biaya kepemilikan turut menjadi pertimbangan dalam keputusan pembelian.

Hal senada disampaikan Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Fransiscus Soerjopranoto. Ia menyambut positif rencana pemerintah melanjutkan insentif kendaraan listrik karena kebijakan tersebut dinilai efektif mendorong minat sekaligus daya beli masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.

Baca Juga: DFI Retail (HERO) Optimistis Bisnis Tetap Positif pada Semester II-2026

"Hyundai menyambut baik rencana kelanjutan insentif kendaraan listrik oleh pemerintah karena kebijakan ini terbukti efektif menjadi stimulus utama dalam meningkatkan minat serta daya beli masyarakat terhadap mobilitas ramah lingkungan," ujar Fransiscus kepada Kontan, Senin (10/8/2026).

Menurut Fransiscus, keberlanjutan insentif berpotensi mendorong pertumbuhan penjualan EV secara signifikan. Bahkan, pertumbuhan pasar ke depan berpeluang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Hal ini seiring dengan pasar EV Indonesia yang semakin matang serta pilihan model kendaraan listrik yang semakin beragam. Kondisi tersebut memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen yang ingin beralih dari kendaraan konvensional.

"Kami optimis kehadiran insentif ini dapat mendorong pertumbuhan penjualan EV secara signifikan dan berpotensi lebih tinggi dibanding periode sebelumnya seiring dengan makin matangnya pasar serta makin banyaknya pilihan model di Indonesia," jelas Fransiscus.

Meski demikian, Fransiscus menilai insentif fiskal saja belum cukup untuk menjaga pertumbuhan pasar EV secara berkelanjutan. Dukungan nonfiskal juga perlu diperkuat, terutama dari sisi pembiayaan dan infrastruktur.

Kemudahan pembiayaan, penguatan infrastruktur pendukung kendaraan listrik, serta program yang dapat meningkatkan kepercayaan dan minat masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk memperluas adopsi EV.

"Untuk menciptakan pertumbuhan pasar yang berkelanjutan, kebijakan insentif perlu diimbangi dengan dukungan non-fiskal, seperti kemudahan pembiayaan, penguatan infrastruktur pendukung, maupun program yang meningkatkan kepercayaan dan minat konsumen," kata Fransiscus.

Baca Juga: Unilever Dorong Inovasi di Bisnis Hair Care lewat Teknologi AI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News