Insentif Otomotif 2026 Masih Abu-abu, Gaikindo Pilih Bekerja Secara Normal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memilih untuk tetap menjalankan aktivitas industri secara normal di tengah belum adanya kepastian kelanjutan insentif otomotif dari pemerintah pada 2026. Sikap ini diambil untuk menghindari efek wait and see di kalangan konsumen yang justru berpotensi menekan penjualan.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengatakan hingga saat ini belum ada keputusan resmi terkait insentif otomotif, termasuk untuk kendaraan listrik alias electric vehicle (EV). Karena itu, Gaikindo menilai isu insentif sebaiknya tidak terlalu diprioritaskan.

“Kami belum tahu, jadi mindset kami ya itu belum keluar. Nggak usah ditunggu. Kalau masyarakat berharap lalu wait and see, itu berbahaya karena dampaknya bisa langsung ke penjualan,” ujar Kukuh kepada media di Jakarta, Jumat (30/1/2026).


Baca Juga: Penjualan Kendaraan Roda Dua Suzuki Tembus 16.000 Unit

Meski demikian, Kukuh memastikan Gaikindo telah menjalin dialog dengan pemerintah untuk menyampaikan kondisi industri serta ekspektasi pelaku usaha. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah sebagai pemegang otoritas kebijakan.

“Kami sudah lakukan dialog, menyampaikan ekspektasi dan kondisi industri. Tapi pengambil kebijakan kan dari pemerintah,” jelasnya.

Gaikindo pada prinsipnya berharap setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dapat mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional. Namun, selama belum ada kepastian, asosiasi memilih bersikap realistis dengan menjalankan bisnis seolah tanpa insentif.

“Antisipasinya ya kami bekerja seperti biasa saja, seperti sekarang ini belum ada insentif,” kata Kukuh.

Terkait berakhirnya insentif kendaraan listrik impor utuh (CBU) yang berlaku sebelumnya, Kukuh menegaskan kebijakan tersebut memang telah selesai masa berlakunya dan bukan dicabut secara mendadak. Hal ini dinilai sudah diantisipasi oleh para pelaku industri.

“Kemarin itu kebijakannya diberikan dan berakhir, bukan dicabut. Jadi pelaku usaha sudah mengantisipasi,” ujarnya.

Baca Juga: Antam (ANTM), IBI & Huayou Garap Proyek Baterai Terintegrasi, Investasi US$ 6 Miliar

Di sisi lain, Kukuh tetap menyimpan optimisme terhadap prospek industri otomotif tahun ini, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 6%. Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi terealisasi, penjualan otomotif berpeluang ikut terdorong.

“Kondisinya seperti ini, kami harus optimis terus. Kalau ekonomi 6%, mudah-mudahan penjualan bisa meningkat,” imbuhnya.

Untuk kendaraan listrik, Kukuh menilai penetrasi EV di Indonesia masih akan bertumbuh, meski dengan laju yang lebih selektif. Pada 2025, porsi EV disebut meningkat hingga sekitar 11% berkat insentif. 

Ke depan, Gaikindo ingin melihat sejauh mana pertumbuhan tersebut berlanjut secara alami. “Kami ingin tahu kapan jenuhnya. Nggak mungkin juga 100% Indonesia EV, karena faktanya masih Jawa-sentris, bahkan Jakarta-sentris,” ujarnya.

Kukuh juga menyoroti tantangan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik yang masih relatif rendah. Komponen utama seperti motor listrik, chip, dan baterai sebagian besar masih diimpor, sehingga membutuhkan konsistensi kebijakan jangka panjang agar industri hulu dapat tumbuh.

“Kebijakan itu harus konsisten dan jangka panjang. Mobil itu industrinya panjang, bukan satu-dua tahun. Kalau kebijakan cepat berubah sebelum break even, itu tidak sustain,” tegasnya.

Baca Juga: Taman Safari Indonesia Rawat Kembangbiakkan 100 Satwa Endemik Langka di PCBA Jatim

Selanjutnya: Gus Yahya Sebut Konsesi tambang NU Belum Memberikan Hasil

Menarik Dibaca: Bitcoin Ambles Hampir 6%, Sinyal Bearish atau Volatilitas Jangka Pendek?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News