KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memberikan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) selama sembilan bulan, diperkirakan akan membuat penerimaan negara ambles Rp 2,3 triliun. Adapun insentif fiskal ini mulai berlaku mulai Maret hingga Desember 2021. Sekertaris Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Susiwijono menyampaikan bahwa berdasarkan kajian pemerintah, dengan mekanisme pajak ditanggung pemerintah (DTP) untuk insentif PPnBM Mobil, penerimaan pajak yang hilang berkisar antara Rp 1 triliun hingga Rp 2,3 triliun di tahun 2021. Susi menjelaskan insnetif ini diberikan untuk jenis mobil di bawah 1.500 cc dengan tipe mobil sedan dan 4x2 atau gardan tunggal.
“Penurunan PPnBM dari segment di bawah 1.500 cc ini akan mengurangi dari sisi revenuenya barangkali angkanya bisa mencapi Rp 1 triliun sampai Rp 2,3 triliunan-an untuk PPnBM dari segmen kategori tadi,” kata Susiwijono dalam acar bertema Daya Ungkit Untuk Ekonomi Bangkit, Selasa (16/2). Baca Juga: Pencarian calon mitra proyek baterai kendaraan listrik berlanjut, Tesla masuk radar Kendati demikian, Susiwidjono menyampaikan hilangnya potensi penerimaan pajak akibat insnetif PPnBM mobil akan terbayar dengan dampak ekonomi secara luar biasa. Sebab, sektor otomotif punya multiplier effect yang luas di dalam rumpun industri pengolahan dan perdagangan.