KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Puncak arus mudik Lebaran 2026 diprediksi mengalami penurunan signifikan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pelemahan kondisi ekonomi disebut menjadi faktor utama penyebabnya. Ketua Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Darmaningtyas menilai, lesunya perekonomian membuat daya beli masyarakat menurun sehingga berdampak pada keputusan untuk mudik.
Baca Juga: FiberStar Target Tambah 750.000 Homepass di 2026, Jaringan Tembus 64.498 Km “Yang paling utama karena ekonomi lesu. ASN di Jakarta yang jumlahnya sekitar satu jutaan banyak yang tidak punya tabungan karena perjalanan dinas dipangkas. Padahal sebagian pengguna mobil pribadi itu berasal dari kelompok tersebut. Sektor swasta juga mengalami kelesuan,” ujar Darmaningtyas kepada Kontan.co.id, Rabu (4/3/2026). Ia memperkirakan jumlah pemudik pada 2026 bisa turun hingga 10% dibandingkan tahun lalu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi Kementerian Perhubungan yang memperkirakan penurunan sekitar 1%. “Kalau prediksi saya sekitar 10%,” katanya. Menurut Darmaningtyas, kenaikan harga BBM akan berdampak langsung pada lonjakan ongkos transportasi sehingga masyarakat berpikir ulang untuk melakukan perjalanan mudik. “Karena harga BBM naik, ongkos transportasi meningkat signifikan, orang tentu akan mempertimbangkan kembali,” jelasnya.
Baca Juga: Sharp Klaim Penjualan Elektronik Q1-2026 Tumbuh 10%, Berbeda Prediksi Perprindo Pandangan serupa disampaikan Pengamat Transportasi sekaligus Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno. Ia menilai kondisi ekonomi dan pasokan BBM menjadi variabel krusial menjelang musim mudik. “Kondisi sekarang sangat tergantung pada BBM. Kalau BBM naik, tentu berpengaruh besar. Apalagi pasokan kita juga sedang ketat,” ujar Djoko. Ia menambahkan, eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi global, termasuk Indonesia. Jika pasokan terganggu, harga BBM dalam negeri bisa ikut terdorong naik.
Baca Juga: Harga Minyak Meroket Imbas Perang Iran vs AS, BBM Non Subsidi Berpotensi Naik Djoko memperkirakan, jika harga BBM meningkat, sebagian masyarakat akan beralih ke transportasi umum. Saat ini, konsumsi BBM terbesar berasal dari sektor transportasi, dengan sekitar 93% digunakan kendaraan pribadi, 4% untuk truk, dan hanya 3% untuk angkutan umum. “Kalau BBM naik, kemungkinan ada pergeseran ke transportasi umum,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News