KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren kenaikan suku bunga acuan dan tingginya imbal hasil instrumen pasar uang diperkirakan akan menahan laju penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini. Selain biaya pendanaan yang semakin mahal, minat investor terhadap obligasi korporasi juga menghadapi persaingan dari instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir pasar obligasi korporasi masih mencatatkan aktivitas penerbitan yang cukup tinggi. Namun, kondisi tersebut berpotensi berubah pada tahun ini. "Dengan kenaikan BI Rate, kenaikan yield SUN, dan tingginya imbal hasil pasar uang, saya pikir penerbitan obligasi korporasi agak sedikit tertahan," ujar Fikri saat dihubungi Kontan, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,75%, PHEI Prediksi Yield Obligasi Tetap Tinggi pada Semester II Menurut dia, kenaikan suku bunga dalam beberapa waktu terakhir telah mendorong peningkatan yield di pasar obligasi. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh level 7,4% pada pekan lalu sebelum kembali turun ke 6,968% pada Kamis (18/6) seiring meredanya ketegangan geopolitik global. Kenaikan tersebut turut diikuti peningkatan imbal hasil pada obligasi korporasi maupun instrumen pasar uang seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan deposito. Kondisi ini membuat investor memiliki lebih banyak pilihan investasi berimbal hasil tinggi dengan risiko yang relative lebih rendah. Karena itu, ia memperkirakan jumlah penerbitan obligasi korporasi sepanjang tahun ini akan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hal ini sejalan dengan data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) yang mencatat pasar obligasi korporasi Indonesia mengalami tren pertumbuhan yang cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, penerbitan obligasi korporasi bahkan mencapai rekor tertinggi, yakni sebesar Rp 216,68 triliun, jauh melampaui nilai obligasi yang jatuh tempo sebesar Rp 151,39 triliun. Memasuki tahun 2026, nilai obligasi korporasi yang akan jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp 155,02 triliun. Namun, hingga 12 Juni 2026 nilai penerbitan baru tercatat sekitar Rp 75,84 triliun.
Baca Juga: Kenaikan BI Rate dan Yield SBN Turut Menekan Pasar Obligasi Korporasi Meski demikian, Fikri melihat obligasi korporasi masih memiliki daya tarik bagi investor, terutama jika menawarkan spread yang cukup lebar dibandingkan SBN. Untuk obligasi korporasi berperingkat AAA dengan tenor yang sama, spread di atas 50 basis poin dinilai sudah sangat menarik. Bahkan untuk tenor lima tahun, spread di kisaran 50 hingga 70 basis poin terhadap SUN dinilai mampu memberikan kompensasi risiko yang menarik bagi investor. Ke depan, pergerakan yield obligasi masih akan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perkembangan geopolitik global, inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, hingga kondisi likuiditas di pasar domestik. Selain itu, aliran dana asing ke pasar SBN dan pasar saham Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah, serta hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional juga akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar obligasi. Di tengah kondisi tersebut, Fikri menyarankan investor untuk menerapkan strategi diversifikasi portofolio. Selain mempertahankan porsi dana pada instrumen pasar uang, investor dapat mulai melirik obligasi tenor pendek yang saat ini menawarkan yield menarik.
Untuk SBN tenor panjang, bahkan yang sangat panjang, menurutnya juga menarik karena yield-nya berada di kisaran di atas 7,3% hingga 7,5%. “Di pasar saham, beberapa saham dengan fundamental yang baik menurut saya juga sudah cukup murah sehingga layak dipertimbangkan. Di samping itu, investor juga perlu tetap menjaga porsi dana di instrumen pasar uang, baik deposito maupun instrumen money market lainnya,” pungkasnya.
Baca Juga: Pasar Obligasi Korporasi Berpihak ke Investor, Ini Penyebabnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News