Instrumen saham dan obligasi masih menarik



JAKARTA. Kendati ada risiko jangka pendek, instrumen saham dan obligasi masih layak buat dikoleksi investor.

Direktur Riset & Investasi PT Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengakui, dalam kurun beberapa pekan terakhir, pasar modal baik saham maupun surat utang cukup tertekan.

Biang keladinya, spekulasi rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed pada pertemuan Desember 2016. Serta agenda pemilihan umum Presiden AS pada 8 November 2016.


Namun, Soni justru menyarankan investor untuk memanfaatkan momentum koreksi dengan mengakumulasi saham dan obligasi. "Setelah koreksi, obligasi dan saham menarik. Hingga akhir tahun ini, kedua aset kelas tersebut masih bagus," paparnya.

Sebab, kecil peluang The Fed mengerek suku bunga acuannya pada pengujung tahun 2016. Maklum, rencana tersebut belum ditunjang oleh perbaikan data-data ekonomi Negeri Paman Sam.

Adapun sektor saham yang atraktif di antaranya sektor infrastruktur, telekomunikasi dan konsumer. Dengan prospek Indonesia yang masih potensial di waktu mendatang, Soni merekomendasikan investor untuk mengakumulasi Surat Utang Negara (SUN) bertenor panjang, lebih dari 10 tahun.

Jika investor dapat menoleransi risiko, efek obligasi korporasi patut dihimpun. Sebab, besaran kupon surat utang emiten lebih menggiurkan ketimbang obligasi negara. "Durasi juga lebih pendek dengan harga relatif stabil. Pilih obligasi korporasi bertenor lebih dari lima tahun," imbuhnya.

Bagi investor berprofil risiko agresif, sebaiknya mengendapkan dana 75% di saham dan 25% di obligasi. Investor moderat dapat mengalokasikan asetnya pada saham dan obligasi masing-masing 50%. Sementara investor konservatif patut menaruh dana di efek saham 25% serta efek surat utang 75%.

Soni memproyeksikan, hingga akhir tahun 2016, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mencapai level 5.600. Pada 2 November 2016, IHSG ditutup ke posisi 5.405,46.

Sementara return obligasi diduga berkisar 19% sepanjang tahun 2016. Per 2 November 2016, kinerja pasar obligasi domestik (Indonesia Composite Bond Index) melaju 16,35% (YtD).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto