Instrumen SBN Mendominasi Portofolio Investasi Ciputra Life pada Semester I-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Instrumen Surat Berharga Negara (SBN) mendominasi portofolio investasi PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) pada Semester I-2026.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 104, SBN mendominasi portofolio Ciputra Life dengan nilai sebesar Rp 644,91 miliar pada Semester I-2026. Adapun porsinya 57,14% terhadap total investasi yang mencapai Rp 1,12 triliun pada Semester I-2026.

Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso mengatakan pertimbangannya bukan semata-mata karena SBN merupakan instrumen dengan risiko kredit yang relatif rendah.


"Namun, instrumen itu karakteristiknya sesuai dengan kebutuhan perusahaan asuransi jiwa dalam mengelola kewajiban jangka panjang kepada pemegang polis," ujarnya kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Asuransi Jasindo Catat Premi Marine Hull Rp 122,49 Miliar hingga Juni 2026

Dalam menentukan alokasi, Hengky menyebut pihaknya mempertimbangkan sejumlah faktor. Dia bilang faktornya, yaitu kualitas aset, tingkat yield, duration, cash flow, likuiditas, serta kesesuaiannya dengan profil liabilitas perusahaan. 

"Dengan pendekatan tersebut, SBN dapat berperan penting dalam menjaga stabilitas dan kualitas portofolio investasi," tuturnya.

Selain SBN, penempatan investasi terbesar Ciputra Life berada di obligasi korporasi. Asal tahu saja, penempatan Ciputra Life di instrumen obligasi korporasi mencapai Rp 275,60 miliar pada Semester I-2026. Porsi instrumen tersebut sebesar 24,11% terhadap total investasi. 

Hengky menyebut hal itu tak terlepas dari adanya peluang pada obligasi korporasi dengan kualitas kredit dan fundamental yang baik. 

"Instrumen tersebut dapat memberikan tambahan spread dibandingkan obligasi pemerintah. Namun, setiap penempatan tetap melalui proses seleksi dan pengelolaan risiko yang ketat," tuturnya.

Bagi Ciputra Life, Hengky bilang strategi investasi bukan tentang mengejar return setinggi-tingginya, melainkan bisa menghasilkan return yang sehat dan konsisten dengan tingkat risiko yang dapat dikelola perusahaan. 

Dia mengatakan prinsip tersebut penting dilakukan agar kinerja investasi dapat mendukung pertumbuhan perusahaan, sekaligus memenuhi kewajiban kepada pemegang polis secara berkelanjutan. 

Baca Juga: Saham Bank Himbara Tertekan, Namun Fundamental Masih Solid, Ini Rekomendasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News