INTA akan fokusi infrastruktur dan transportasi



JAKARTA. Arah kebijakan pemerintah Joko Widodo yang ingin mengembangkan sektor maritim menjadi acuan pelaku usaha. Tak mengherankan jika bisnis PT Intraco Penta Tbk juga ingin mengekor arah kebijakan tersebut. 

Tahun depan Intraco Penta akan memperkuat portofolio penjualan segmen infrastruktur dan transportasi. Perkiraan importir alat berat itu, penjualan alat berat dua sektor itu bakal lebih moncer. 

Selain ingin mencuil peluang lebih besar, perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham INTA itu punya pertimbangan lain. "Untuk diversifikasi segmen penjualan perusahaan," ujar Imam Lyanto, Investor Relation Intraco Penta  kepada KONTAN, Selasa (25/11).


Maklum, sepanjang sembilan bulan kinerja tahun ini, Intraco Penta mencatat total pendapatan Rp 1,26 triliun. Capaian itu turun 35,71% dari pendapatan sembilan bulan 2013 yakni Rp 1,96 triliun.

Manajemen perusahaan itu menuding, biang kerok penurunan pendapatan adalah harga komoditas pertambangan yang masih loyo. Kondisi itu tak menggairahkan perusahaan-perusahaan pertambangan untuk berekspansi. 

Dampaknya, permintaan alat berat sektor pertambangan susut. Padahal, penjualan alat berat sektor pertambangan adalah kontributor utama bagi pendapatan dari lini bisnis penjualan alat berat.

Nah, Intraco Penta ingin mengubah porsi kontribusi penjualan alat berat tahun depan. Harapannya, penjualan alat berat sektor infrastruktur atau konstruksi tahun depan akan membesar menjadi 15%-20% terhadap total penjualan alat berat. Tahun ini, sumbangan penjualan alat berat sektor itu baru sekitar 10%.

Lantas, target kontribusi penjualan alat berat sektor transportasi adalah 10% terhadap total penjualan alat berat. Persentase itu naik dua kali lipat dari prediksi kontribusi tahun ini yakni 5%.

Jika target kontribusi itu terpenuhi, dominasi kontribusi penjualan alat berat sektor tambang akan menyusut menjadi 60% saja terhadap total penjualan alat berat. Lalu, target kontribusi penjualan alat berat sektor perkebunan 4%, alat berat sektor kehutanan sekitar 1% dan sisanya alat berat general industries.

Asal tahu saja, di bisnis penjualan alat berat ini, ada penjualan suku cadang. Ini  menjadi satu dari lima sumber pendapatan Intraco Penta. Total pendapatan dari penjualan ini Rp 861,59 miliar.

Adapun empat sumber pendapatan lain hingga September 2014, pertama, pendapatan jasa Rp 192,89  miliar. Kedua, pendapatan pembiayaan Rp 177,88 miliar.

Ketiga, pendapatan manufaktur Rp 8,46 miliar. Terakhir adalah pendapatan lain-lain sebesar Rp 23,77 miliar. 

Meski mencatat penurunan pendapatan, Intraco Penta cuma mampu mencetak laba tahun berjalan Rp 2,58 miliar. Sementara pada periode sama tahun lalu, perusahaan itu merugi Rp 178,81 miliar.

Imam bilang laba didapat karena pengaruh pencatatan akuntansi saja. "Tahun lalu kami juga tidak benar-benar rugi. Namun hanya karena saat pencatatan menggunakan rupiah dan kurs rupiah sedang melemah," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina