Integra Indocabinet (WOOD) Kejar Pertumbuhan Kinerja 2026, Ini Strateginya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun 2026. Meski ketidakpastian perdagangan global masih membayangi industri mebel dan produk berbasis kayu.

Investor Relations PT Integra Indocabinet Tbk Ravenal Arvense mengatakan, WOOD membidik pertumbuhan pendapatan pada kisaran mid hingga high single digit tahun ini. Target tersebut akan ditopang oleh diversifikasi pasar ekspor serta pengembangan portofolio produk.

“Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar mid to high single digit pada 2026, yang didukung oleh berbagai inisiatif diversifikasi yang tengah dijalankan,” ujar Ravenal kepada Kontan.co.id, Rabu (22/7/2026).


Baca Juga: Trisula Textile (BELL) Targetkan Pendapatan Tumbuh 8% Ditopang Inovasi dan Ekspor

Menurutnya, salah satu strategi utama yang dijalankan adalah memperluas penetrasi pasar Eropa melalui produk flooring. Pengiriman perdana produk tersebut telah dilakukan sejak Juni 2025 dan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Penjualan WOOD ke pasar Eropa tercatat melonjak 654% secara tahunan sepanjang 2025 dan kembali meningkat 2.133% secara tahunan pada kuartal I-2026. Dengan tren tersebut, kontribusi pasar Eropa diperkirakan akan semakin besar terhadap total penjualan ekspor perseroan.

Selain memperluas pasar, WOOD juga mengembangkan lini outdoor furniture serta memperkuat segmen furnitur melalui peluncuran merek sendiri yang menyasar konsumen kelas menengah hingga atas.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas basis pelanggan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu.

Di tengah kondisi tersebut, Ravenal menyebut kinerja perusahaan masih relatif terjaga. Hingga kuartal I-2026, penjualan bersih WOOD tercatat sebesar Rp 722,4 miliar atau turun 6,6% dibanding periode yang sama tahun lalu akibat melemahnya permintaan knockdown furniture.

Baca Juga: MPR Soroti Kekayaan Energi Indonesia, Tapi Mayoritas Masih Impor

Meski demikian, ekspor produk building components tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp 631,1 miliar atau sekitar 87,4% dari total penjualan.

“Marjin kotor meningkat menjadi 21,2% dari sebelumnya 20,5% berkat efisiensi manufaktur yang membantu menekan biaya produksi, sementara laba bersih tetap positif sebesar Rp 27,8 miliar,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News