Integra Indocabinet (WOOD) Menanti Pemulihan Pasar Furnitur AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) tengah berjuang mempertahankan bisnisnya di tengah pelemahan permintaan produk furnitur dan komponen bangunan (building component) di pasar ekspor.

Kinerja keuangan Integra Indocabinet pun lesu. Per kuartal III-2023,  penjualan bersih WOOD menyusut 56,04% year on year (YoY) menjadi Rp 1,71 triliun. Penurunan terbesar terjadi pada penjualan building component yakni 62,74% YoY menjadi Rp 898,43 miliar.

Bersamaan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk WOOD juga terjun 80,33% YoY menjadi Rp 59,14 miliar.


Investor Relation Integra Indocabinet Fajar Andika menyampaikan, penjualan furnitur dan building component memiliki korelasi yang kuat dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ini mengingat mayoritas ekspor WOOD ditujukan ke Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Begini Kata Smartfren Telecom (FREN) Soal Rencana Merger dengan XL Axiata (EXCL)

Saat ini, industri perumahan di AS sedang terpuruk lantaran inflasi tinggi ditambah kebijakan kenaikan suku bunga kredit yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Imbasnya, permintaan properti di AS melambat sehingga berujung pada seretnya penjualan furnitur dan building component untuk segmen tersebut.

Dalam catatan KONTAN, Integra Indocabinet pun memangkas proyeksi penjualannya menjadi turun sekitar 40%--50% pada tahun ini.

Walau demikian, Manajemen Integra Indocabinet tetap optimistis perekonomian AS akan berangsur-angsur pulih.

"Sebab, titik terendah penurunan industri furnitur AS sebenarnya ada di semester kedua tahun lalu," kata Fajar, Jumat (24/11).

Integra Indocabinet memandang, penurunan permintaan furnitur dan building component di AS merupakan sebuah siklus normalisasi usai lonjakan permintaan yang sempat terjadi pada 2022. Sekalipun sedang dalam fase melambat, potensi pasar furnitur AS pada dasarnya masih sangat besar.

Terbukti, menurut data Trade Map, pada 2022 lalu AS menjadi negara pengimpor furnitur terbesar di dunia dengan nilai US$ 86,73 miliar atau setara 29,1% dari total nilai impor furnitur global.

Baca Juga: Laba Cisarua Mountain Dairy (CMRY) Meningkat 10% pada Kuartal III-2023

"Oleh sebab itu, kami masih berusaha untuk melakukan penetrasi pasar ke AS dengan menambah portofolio pelanggan," ujar Fajar.

Dia melanjutkan, potensi pemulihan permintaan furnitur dan building component AS akan terjadi pada 2024. Hal ini mengacu pada ekspektasi beberapa analis bahwa tingkat suku bunga acuan AS akan mulai turun pada tahun depan.

Editor: Tendi Mahadi