KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Integra Indocabinet Tbk (
WOOD) optimistis kinerja bisnis pada semester II-2026 tetap tumbuh positif. Perusahaan membidik pertumbuhan pendapatan sepanjang tahun ini di kisaran
low-single digit hingga
high-single digit. Investor Relations Integra Indocabinet Ravenal Arvense mengatakan, pertumbuhan kinerja WOOD akan ditopang oleh segmen
building components yang masih solid. Selain itu, perusahaan terus memperluas diversifikasi pasar ekspor, terutama ke Eropa. "Kami masih optimistis terhadap prospek kinerja WOOD pada semester II-2026 dan menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran low- hingga high-single digit untuk tahun 2026," kata Ravenal kepada Kontan, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Hyundai STARGAZER Cartenz Raih Penjualan 1.100 Unit pada Juli 2026 Menurut dia, pasar Eropa mulai memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap penjualan WOOD. Pada semester I-2026, kontribusi pasar Eropa telah mencapai 18% dari total penjualan, melonjak dibandingkan hanya sekitar 2% pada semester I-2025. Ravenal menilai, peningkatan tersebut menunjukkan strategi diversifikasi pasar yang dijalankan perusahaan mulai membuahkan hasil. Eropa pun diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan WOOD pada semester II-2026. "Perkembangan ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi yang telah dijalankan mulai memberikan kontribusi yang semakin berarti," ujarnya. Perusahaan melihat porsi penjualan dari Eropa masih berpotensi meningkat hingga akhir tahun seiring dengan perluasan basis pelanggan dan portofolio produk. Kendati demikian, WOOD tidak ingin terlalu bergantung pada satu pasar ekspor. Diversifikasi tersebut juga menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat sekaligus memperluas basis pelanggan. Dengan begitu, ketergantungan terhadap sejumlah pelanggan besar dapat ditekan. Di sisi lain, WOOD juga optimistis terhadap profitabilitas operasional. Ravenal menyebut operating margin perseroan justru membaik menjadi 12,3% pada semester I-2026, dari 11,9% pada semester I-2025. Perbaikan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap laba bukan terutama berasal dari kinerja operasional. Tekanan terhadap net margin lebih banyak berasal dari faktor non-operasional, terutama kenaikan beban pembiayaan serta lebih rendahnya kontribusi pendapatan lain-lain, termasuk keuntungan selisih kurs.
Memasuki semester II, perusahaan menilai tekanan dari pos tersebut berpeluang lebih terbatas lantaran sebagian bersifat fluktuatif dari periode ke periode. "Terlebih dengan kinerja operasional yang semakin baik, perseroan melihat ruang bagi laba bersih dan net margin untuk membaik seiring pertumbuhan pendapatan," kata Ravenal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News