KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proses integrasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA dinilai perlu dilakukan secara bertahap. Pada fase awal, INKA sebaiknya difokuskan untuk mendukung kebutuhan operasional KAI sebelum mengembangkan bisnis yang lebih luas. Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai KAI sebagai induk usaha perlu menjadi pihak yang mengorkestrasi arah bisnis INKA agar sinergi yang dibangun mampu memperkuat industri perkeretaapian nasional.
"Untuk sementara sebaiknya INKA fokus pada kebutuhan untuk menunjang layanan KAI, misalnya terkait dengan rangkaian KRL atau kebutuhan lain semacam gerbong," ujar Herry kepada Kontan, Rabu (23/7/2026).
Baca Juga: KAI Siap Akuisisi INKA pada Akhir Tahun Ini Menurut dia, pada tahap awal integrasi, INKA lebih tepat berperan sebagai
support system bagi bisnis KAI. Dengan demikian, seluruh perencanaan produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan operator sehingga menciptakan sinergi yang lebih efektif. "Fokus utama untuk mendukung sinergi yang positif, INKA harus mengikuti skenario KAI. KAI yang melakukan orkestrasi bisnis," katanya Herry menambahkan pendekatan tersebut juga mempertimbangkan kondisi keuangan INKA yang masih menghadapi tekanan. Menurutnya, apabila INKA tetap menjalankan strategi bisnis secara independen, beban yang ditanggung KAI sebagai induk usaha akan semakin besar. "Untuk sementara ini, INKA menjadi
support system yang mendukung bisnis KAI. Kalau INKA jalan dengan skenarionya sendiri, beban yang ditanggung KAI sangat berat, apalagi keuangan INKA tahun 2025 mengalami kerugian besar dengan beban keuangan yang tidak kecil pula," ujarnya. Meski demikian, Herry menilai peluang pengembangan INKA tetap terbuka setelah kondisi keuangan perusahaan membaik. Menurut dia, pada tahap tersebut KAI dapat menggandeng investor strategis untuk memperkuat kapasitas manufaktur kereta nasional.
Baca Juga: Pengamat Soroti Transformasi KAI, Standar Layanan Disebut Kian Kompetitif "Ke depan, jika perusahaan itu sudah kuat terutama dari sisi keuangan, KAI bisa mengundang investor lain untuk bersama-sama mengembangkan INKA sebagai produsen di bidang perkeretaapian atau berkembang ke arah lainnya," katanya. Di sisi lain, Herry mengingatkan integrasi KAI dan INKA juga membawa tantangan karena kedua perusahaan memiliki model bisnis yang berbeda. INKA bergerak di sektor manufaktur dengan karakter bisnis berbasis proyek dan kebutuhan modal yang besar, sedangkan KAI merupakan operator yang mengandalkan arus kas untuk menjaga operasional dan pelayanan kepada pelanggan. Menurut dia, penyatuan dua model bisnis tersebut berpotensi membuat risiko di sektor manufaktur ikut memengaruhi kinerja operator. "Ketika risiko dari lini bisnis hulu (manufaktur) dan hilir (operator) berada dalam satu entitas, akan semakin sulit diatasi. Begitu ada masalah di hulu, maka di hilir langsung kena imbasnya," ujar Herry.
Baca Juga: Merger KAI-INKA Makin Dekat, Akuisisi Ditargetkan Tuntas November 2026 Ia menilai kebutuhan modal kerja INKA yang besar berpotensi menyerap likuiditas KAI apabila pengelolaan keuangan kedua perusahaan tidak dipisahkan secara jelas. "Kalau dua perusahaan dengan beda karakter itu digabungkan dalam KAI, kas KAI bisa tersedot untuk modal INKA dan ini risikonya sangat besar," katanya.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Herry mengusulkan Danantara mempertimbangkan pembentukan holding khusus sektor perkeretaapian yang membawahi KAI dan INKA. Skema tersebut dinilai dapat memisahkan pengelolaan risiko antara bisnis manufaktur dan operator sehingga tidak saling membebani. "Dengan demikian, risiko yang ada di hulu dengan di hilir dapat dilokalisir dan tidak serta merta saling memengaruhi kinerja," ujarnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News