KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) mulai memanfaatkan energi surya untuk mendukung operasional fasilitas manufakturnya di Jakarta Timur. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan jangka panjang.
Baca Juga: Pasar Kulkas Indonesia Makin Panas, Produsen Global Adu Kapasitas dan Teknologi Perusahaan yang merupakan bagian dari Kenvue, Inc. tersebut mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) On Grid berkapasitas 777,98 kilowatt peak (kWp) sejak Februari 2026. Proyek ini dijalankan bersama PT Surya Utama Nuansa (SUN Energy) sebagai penyedia solusi energi terbarukan terintegrasi. PLTS yang terpasang di fasilitas IHI diproyeksikan mampu menghasilkan energi sebesar 1.012.503 kilowatt hour (kWh) per tahun. Pemanfaatan energi surya tersebut juga diperkirakan dapat mengurangi emisi karbon hingga 787,73 ton CO2 per tahun atau setara dengan penanaman lebih dari 13.000 pohon.
Baca Juga: Bursa Mineral 2027 Dinilai Ambisius, CORE: Fondasi Pasarnya Belum Siap Presiden Direktur PT Integrated Healthcare Indonesia, Teerasak Lueuwirat, mengatakan inisiatif tersebut dilakukan di tengah tantangan industri manufaktur kesehatan yang dituntut menjaga kualitas dan keamanan produk sekaligus mengelola kebutuhan energi yang tinggi untuk menopang proses produksi. Menurutnya, pemanfaatan energi bersih kini tidak lagi sekadar menjadi bagian dari agenda lingkungan, melainkan telah menjadi strategi bisnis untuk menciptakan operasional yang lebih efisien, tangguh, dan siap menghadapi tuntutan industri di masa depan. "Transisi energi di sektor healthcare membutuhkan solusi yang mampu menjaga keandalan operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan perusahaan," ujar Teerasak dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026). Berbeda dengan banyak sektor lainnya, industri kesehatan memiliki keterbatasan dalam menekan konsumsi energi karena harus mempertahankan standar operasional yang ketat.
Baca Juga: Rencana Kemasan Polos Vape Picu Diskusi soal Hak Informasi Konsumen Fasilitas seperti
clean room, laboratorium, sistem HVAC,
cold-chain logistics, pengolahan air, hingga lini produksi dan pengemasan membutuhkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan untuk menjaga kualitas produk. Saat ini, IHI memproduksi dan memegang izin edar berbagai merek produk kesehatan, antara lain Mylanta, Tylenol, Benadryl/Bactidol, Imodium, Daktarin, dan Motilium. Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke sejumlah negara seperti Korea Selatan, Filipina, Thailand, dan Australia. Selain mendukung pengurangan emisi karbon, penggunaan energi surya juga dinilai dapat membantu perusahaan mengendalikan biaya energi dalam jangka panjang serta mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga energi konvensional. Teerasak menambahkan, perusahaan juga telah menerapkan sistem digitalisasi berbasis pemantauan real-time sejak awal tahun ini untuk meningkatkan presisi, visibilitas, dan kecepatan pengambilan keputusan operasional.
Baca Juga: Bali Jadi Magnet Wellness Asia, Daewoong Tambah Investasi Lewat BFriends Energi yang dihasilkan PLTS tersebut digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional, mulai dari sistem pendingin, pengolahan air, pencahayaan, hingga fasilitas produksi dan pergudangan. Sementara itu, CEO SUN Energy Jefferson Kuesar mengatakan, sektor kesehatan merupakan salah satu industri dengan kebutuhan energi paling kritis karena operasionalnya harus memenuhi standar kualitas dan keandalan yang tinggi. "Karena itu, transisi energi di sektor ini tidak hanya berfokus pada upaya dekarbonisasi, tetapi juga pada penguatan ketahanan energi dan efisiensi operasional jangka panjang. Kami melihat semakin banyak industri memandang energi terbarukan bukan hanya sebagai inisiatif lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi bisnis dan peningkatan daya saing global," ujar Jefferson. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News