KONTAN.CO.ID - Laporan intelijen terbaru Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa Iran kecil kemungkinan akan segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Berdasarkan sumber yang mengetahui laporan tersebut, Teheran masih akan mempertahankan kendalinya atas selat tersebut sebagai satu-satunya alat tekanan nyata terhadap Amerika Serikat di tengah konflik yang telah berlangsung hampir lima pekan.
Baca Juga: Drone Iran Bakar Kapal Afiliasi Israel di Hormuz, Jalur Minyak Makin Rawan “Sekarang Iran telah merasakan kekuatan dan pengaruhnya atas Selat Hormuz, mereka tidak akan segera melepaskannya,” ujar salah satu narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengutip laporan intelijen AS terbaru dilansir dari Reuters Sabtu (4/4/2026). Penilaian ini menunjukkan Iran berpotensi terus membatasi arus lalu lintas di Selat Hormuz untuk menjaga harga energi tetap tinggi, sekaligus menekan Presiden AS Donald Trump agar segera mencari jalan keluar dari konflik yang tidak populer di dalam negeri. Presiden Trump sebelumnya menyatakan optimisme bahwa Selat Hormuz dapat segera dibuka kembali. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis: "Dengan sedikit waktu lagi, kita dapat membuka Selat Hormuz, ambil minyak, dan hasilkan keuntungan besar."
Baca Juga: Rusia Evakuasi 198 Staf dari PLTN Bushehr, Risiko Konflik Kian Meningkat Namun, analis menilai langkah militer untuk membuka jalur ini sangat berisiko dan dapat memicu konflik berkepanjangan. "Dalam upaya mencegah Iran mengembangkan senjata pemusnah massal, AS justru memberi Iran senjata untuk mengganggu pasar energi dunia. Kemampuan Iran mengontrol Selat Hormuz bahkan lebih efektif daripada senjata nuklir," ujar Ali Vaez, Direktur Iran Project di International Crisis Group. Sejak awal konflik pada 28 Februari, Iran telah menggunakan berbagai taktik untuk menghambat lalu lintas komersial, mulai dari menyerang kapal sipil, memasang ranjau, hingga memungut biaya lintas. Langkah ini mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan meningkatkan risiko inflasi global, termasuk di AS. Beberapa ahli juga memperingatkan bahwa operasi militer untuk membuka Selat Hormuz sangat sulit.
Jalur ini sempit, hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, dengan jalur pelayaran aktif sekitar 3 kilometer di masing-masing arah, membuat kapal dan pasukan mudah menjadi sasaran.
Baca Juga: Serangan Udara Picu Penutupan Jalur Dagang Irak–Iran, Distribusi Pangan Terancam Bill Burns, mantan Direktur CIA, menambahkan: "Iran akan mempertahankan kendali atas selat ini bahkan setelah perang selesai. Mereka dapat menggunakan jalur ini untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, misalnya melalui pungutan biaya lintas, sekaligus menegaskan posisi tawar dalam setiap kesepakatan damai." Kondisi ini diperkirakan akan membuat proses negosiasi damai antara Iran dan AS menjadi lebih kompleks, karena kemampuan Iran mengendalikan jalur energi utama dunia menjadi salah satu kartu terpenting dalam diplomasi regional.