Interkoneksi turun, ongkos telekomunikasi tetap



JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Informasi berencana menurunkan tarif interkoneksi pada September mendatang dari Rp 250 menjadi Rp 204 per menit. Tapi, penurunan biaya interkoneksi tak otomatis menurunkan ongkos telekomunikasi.

Leonardo Henry Gavaza, Analis Bahana Securities, menjelaskan, penurunan biaya interkoneksi tak berdampak signifikan bagi industri telekomunikasi.

"Justru penurunan biaya interkoneksi memicu operator yang malas membangun infrastruktur menjadi lebih malas lagi membangun," tegas Leonardo.


Maklum, tidak semua operator memenuhi kewajiban aturan modern licensing, yakni membangun jaringan hingga pelosok tanah air. Penurunan tarif itu berpotensi menurunkan pendapatan interkoneksi PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM).

Sementara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) akan mencatatkan beban interkoneksi rendah.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities mengatakan, saat ini kontribusi interkoneksi sudah tidak terlalu besar.

"Kontribusi emiten telekomunikasi paling banyak dari layanan data," kata Reza, kepada KONTAN, Jumat (19/8).

Kalaupun terjadi penurunan pendapatan interkoneksi, TLKM akan mengimbangi dari layanan data dan jasa lain. TLKM memiliki unit bisnis bervariasi, misalnya telekomunikasi tetap, data internet, TV berlangganan IndiHome, infrastruktur fiber optik, dan menara telekomunikasi.

Reza masih memilih TLKM di antara emiten telekomunikasi lain. Selain harga sahamnya terus bergerak, tumbuhnya kinerja di semester I-2016 menjadi indikasi bahwa saham TLKM masih bagus.

Clement Hardjono, Analis Minna Padi Investama, berpendapat sama. Dengan penurunan tarif interkoneksi, TLKM dirugikan, sementara EXCL dan ISAT diuntungkan. Pemotongan tarif interkoneksi akan menurunkan pendapatan dan beban interkoneksi.

Di kuartal II-2016, pendapatan interkoneksi TLKM turun 26,3% menjadi Rp 797 miliar dibanding kuartal pertama sebesar Rp 1,08 triliun. Beban interkoneksi juga turun 19,8% dari Rp 784 miliar di kuartal pertama menjadi Rp 629 miliar di kuartal kedua tahun 2016.

EXCL dan ISAT diuntungkan penurunan tarif ini karena jumlah pelanggan lebih sedikit ketimbang TLKM. Namun, "Saya melihat dampaknya tidak terlalu signifikan di jangka panjang karena tren voice dan SMS dalam kondisi menurun," kata Clement.

Ia menyukai saham TLKM, EXCL, dan ISAT. Sepanjang semester pertama lalu, ISAT mencatatkan kinerja di atas ekspektasi dengan potensial kenaikan. ISAT juga menambah 10,7 juta pelanggan di kuartal kedua tahun ini.

Jumlah pengguna layanan telekomunikasi yang semakin banyak seiring peningkatan jumlah penduduk Indonesia menjadi sentimen positif bagi emiten telekomunikasi. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, masyarakat semakin banyak menggunakan aplikasi mobile dan data.

"Peningkatan pengguna smartphone juga dapat meningkatkan data traffic," jelas Clement.

William Surya Wijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities, mengatakan, sentimen negatif bagi emiten telekomunikasi adalah nilai tukar rupiah yang berkaitan dengan biaya pengembangan jaringan.

"Namun, mereka kini sudah terbantu oleh emiten menara telekomunikasi sehingga mereka tidak perlu kelola sendiri," kata William.

William juga memilih saham TLKM, EXCL, dan ISAT karena permintaan masih ada dan layanan data terus bertumbuh. Untuk PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), menurut William jaringannya kurang luas. "Sahamnya juga tidak likuid," ujar William.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie